Friday, 18 October 2019

Alutsista dan Kesejahteraan Prajurit

Selasa, 6 Oktober 2015 — 5:57 WIB

TENTARA Nasional Indonesia memasuki usia  ke 70, seusia dengan umur republik ini. HUT  TNI digelar meriah di Cilegon, Banten, dan masyarakat pun bangga menyaksikan armada tentara kita melakukan atraksi. Ulang tahun TNI kali ini memang sengaja mengundang rakyat untuk¬ berbaur langsung.

Kemanunggalan tentara dengan rakyat harus terus ditumbuhkan karena TNI lahir rakyat, berjuang bersama-sama rakyat merebut kemerdekaan, dan pilar utama kekuatan TNI adalah rakyat.  TNI yang dulu  terkesan kaku, kini lebih membuka diri dan dalam beberapa kesempatan kerap mengajak masyarakat mencoba menaiki kendaraan-kendaraan tempur.

Di usia TNI yang lebih dari setengah abad, ada catatan penting yang perlu disoroti. Pertama, kekuatan alutsista (alat utama sistim pertahanan) dan kedua, kesejahteraan prajurit. Sebagai negara besar dengan jumlah penduduk sekitar 250 juta jiwa, kita dituntut mememiliki tentara yang kuat dan SDM yang mumpuni.
Secara geografis, Indonesia memiliki luas wilayah 1.919.000 Km2 dengan luas laut 3.544.743 Km2 dan panjang pantai 99.095 Km2. Modernisasi¬ peralatan pertahanan darat, laut dan udara menjadi¬ kebutuhan yang tidak bisa diabaikan.

Dalam catatan Global Fire Power, armada laut TNI menduduki peringkat 12 dunia dengan memiliki 171 perang berbagai tipe. Sedangkan¬ Angkatan Darat  di urutan ke 36 memiliki 468 tank,  kalah dibanding Thailand (urutan ke 26) dan Myanmar (ke 32). Di sektor kekuatan udara, kita memiliki 405 pesawat terbang berbagai jenis, juga kalah dibanding Thailand yang memiliki 573 unit.

Data ini menunjukkan kekuatan armada TNI memang masih berada di bawah peringkat negara ASEAN lainnnya. Hanya dari jumlah personel tentara¬ saja yang kita lebih unggul, yaitu peringkat ke 10 dunia. Modernisasi alutsista mau tak mau harus jadi perhatian pemerintah demi menjaga kedaulatan NKRI.

Komponen lainnya, soal kesejahteraan prajurit. Gaji terendah prajurit TNI sebesar Rp1,565 juta/bulan, sedangkan tertinggi (Jenderal) Rp5,6 juta/bulan. Penghasilan prajurit bisa terdongkak karena ada uang remunerasi. Bandingkan dengan gaji Tentara Diraja Malaysia yang 20 kali lipat prajurit kita dengan pangkat sama.

Tugas berat perajurit, mestinya diimbangi dengan memberi hak-haknya sebagai manusia. Tak sedikit oknum tentara melakukan penyimpangan seperti menjadi beking, nyambi jadi ‘centeng’ dan pekerjaan tercela lainnya demi perut keluarga. Itu sebabnya peningkatan kesejahteraan¬ prajurit  harus jadi skala prioritas. Dirgahayu TNI. **