Monday, 14 October 2019

Gereja Dibakar di Aceh, GMKI Desak Kepala BIN Dicopot

Selasa, 13 Oktober 2015 — 23:02 WIB
Kepala BIN Sutiyoso

Kepala BIN Sutiyoso

JAKARTA (Pos Kota)- Ketua Umum Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI), Ayub Manuel Pongrekun menyangkan adanya bentrok massa dan pembakaran gerja   di Desa Suka Makmur, Kecamatan Gunung Meriah, Kabupaten Aceh Singkil, Nangroe Aceh DarussalamSelasa (13/10) atau menjelang Tahun Baru Islam 1 Muharram 1437 H.

Insiden tersebut, menurut Ayub seharusnya dapat diantisipasi oleh pemerintah jika saja Badan Intelijen Negara (BIN) bekerja maksimal. Sehingga hal seperti ini tidak perlu terulang kembali.

Untuk itu GMKI meminta Presiden Jokowi, mencopot Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Sutiyoso. “Selain Kepala BIN, kami meminta Kapolda Aceh,  Irjen Pol Husein Hamidi, dan Kapolres AKBP Budi Samekto untuk dicopot dari jabatannya karena gagal mengamankan warga korban bentrok,” ujarnya dalam keterangan tertulis..

Dia mengatakan peristiwa di Aceh Singkil menunjukkan bahwa Sutiyoso dan jajarannya memang tidak mampu menjalankan tugas-tugas intelijen. Bahkan ironisnya, personil aparat keamanan tidak mampu menunjukkan rasa aman terhadap warganya. “Kapolri harus bertindak bukan mengembangkan argumen sesat bahwa yang terjadi adalah bentrok warga . Harus ada yang bertanggung jawab terhadap pecahnya kerusuhan di Singkil,” ujarnya.

Ayub mengatakan peristiwa intoleransi seperti ini bukan kali pertama terjadi di Aceh Singkil, terbukti dengan adanya perjanjian antar warga yang sangat diskriminatif sejak 1979 yang membatasi  jumlah rumah peribadatan yang hanya 1 gereja dan 4 undung-undung (rumah peribatan kecil). Ditambah dengan Peraturan Gubernur nomor 25 tahun 2007 tentang Pedoman Pendirian Rumah Ibadah yang lebih diskriminatif dari Peraturan Bersama Menteri tentang pendirian Rumah Ibadah. “Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo harus segera evaluasi seluruh perda yang diskriminatif,” ujarnya.

Sebelumnya, Sebuah insiden kerusuhan terjadi di Desa Suka Makmur, Kabupaten Aceh Singkil, Provinsi Aceh, sekitar pukul 11.00 WIB. Kerusuhan bermula ketika sekelompok orang bersenjata tajam mendatangi salah satu gereja di Desa Suka Makmur dan membakarnya. Massa yang berjumlah ratusan orang itu, menurut Bupati Aceh Singkil Safriadi, membakar satu bangunan gereja dan satu undung-undung atau rumah ibadah berukuran kecil. Ketika hendak menuju lokasi ketiga, mereka dicegat oleh polisi dan tentara.(B)