Monday, 09 December 2019

Kemarau Masih Panjang

Dirut PAM Jaya Imbau Hemat Air

Minggu, 1 November 2015 — 10:47 WIB
Foto-Dirut PAM Jaya, Erlan Hidayat (paling kiri) saat memberi keterangan. (Joko)

Foto-Dirut PAM Jaya, Erlan Hidayat (paling kiri) saat memberi keterangan. (Joko)

JAKARTA (Pos Kota) – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan musim kemarau di DKI Jakarta dan sekitarnya masih akan berlanjut sampai dengan akhir tahun. Dampak dari kemarau panjang ini sudah mengakibatkan sejumlah sumur warga kekeringan dan sumber-sumber air baku PAM Jaya makin menurun kuantitas dan kualitasnya.

Direktur Utama PAM Jaya Erlan Hidayat mengimbau masyarakat untuk lebih menghemat air. “Kepada masyarakat DKI Jakarta mulai sekarang agar semakin membiasakan penghematan air,” kata Erlan di Jakarta, Minggu (1/11). Menurutnya, walaupun sumber air baku yang dikirm ke Jakarta sampai saat ini masih dapat dipertahankan volumenya oleh Perum Jasa Tirta (PJT) II dan PDAM Kabupaten Tangerang, namun ketergantungan sumber air baku dari luar wilayah Jakarta ini sangat mengandalkan curah hujan di wilayah sumber air tesebut.

PAM Jaya dengan kedua mitranya yakni Palyja dan Aetra akan tetap berkomitmen melayani kebutuhan air bersih bagi warga DKI Jakarta. Bagi masyarakat yang mengalami kekeringan dapat meminta bantuan tangki air bersih melalui laporan ke kantor kelurahan masing-masing. “Kami akan secepatnya mengirim bantuan,” kata Erlan usai memimpin rapat kordinasi seluruh pihak terkait.

Seperti diketahui bahwa sumber air baku terbesar DKI Jakarta berasal dari Waduk Jatiluhur di Purwakarta, Jawa Barat yang dikelola PJT II. Pada pertengahan September, tinggi muka air (TMA) Waduk Jatilhur adalah 94.22 MDPL namun saat ini TMA-nya menjadi 88.5 meter di atas permukaan laut (MDPL). Secara rata-rata terdapat penurunan TMA di waduk Jatiluhur sebanyak 10 cm per hari. Jika kondisi kemarau ini berlangsung terus, maka diperkirakan pada akhir November TMA Waduk Jatiluhur menjadi 85.5 MDPL. Artinya produksi air bersih menjadi berkurang kuantitas maupun kualitasnya.

Melalui rapat koordinasi yang diadakan PAM JAYA dengan pihak PJT II, BBWS (Balai Besar Wilayah Sungai) Citarum, PALYJA dan AETRA pada tanggal 28 Oktober 2015 di IPA Buaran. Pihak PJT II melalui Kepala Divisi 1 Dadang Hidayat menyampaikan bahwa dengan kondisi TMA pada level 85 MDPL atau pola kering sekalipun, PJT II akan tetap mengirimkan air baku ke Jakarta sesuai dengan kesepakatan yang sudah ada. “PJT II menyampaikan bahwa saat ini mereka masih menggunakan turbin untuk mendorong air dan jika TMA mencapai titik 49 MDPL, maka hollow jet akan diaktifkan guna mendorong air ke DKI Jakarta,” papar Hidayat sambil mengharapkan masyarakat tidak perlu panik.

Selain air baku dari Jatiluhur, PAM Jaya juga mendapatkan air curah dari PDAM Kabupaten Tangerang. Saat ini posisi pasokan air curah masih relatif aman. “Sementara pasokan air baku yang ada di wilayah Jakarta masih belum memungkinkan untuk diolah, hanya beberapa sungai saja yang bisa diproses menjadi air bersih,” sambungnya. Instalasi Pengolahan Air (IPA) Taman Kota yang menggunakan Cengkareng Drain sebagai sumber air bakunya beberapa kali dinonaktifkan sekalipun bisa beroperasi hanya 50-70% dari kapasitas normal, hal ini terjadi karena air bakunya mengalami intrusi air laut.

Sedangkan IPA Cilandak hanya mampu menghasilkan 50% dari total kapasitas produksi. Hal ini juga disebabkan oleh kualitas air baku Kali Krukut yang semakin menurun di musim kemarau ini. “Hemat air adalah sikap paling bijak dalam rangka antisipasi kemarau panjang,” pungkasnya.

(joko/sir)