Wednesday, 23 October 2019

Akses Pendanaan UMKM ke Perbankan Masih Rendah

Senin, 9 November 2015 — 18:56 WIB
Ketua Asippindo Diding S Anwar saat menyerahkan cinderamata bedah buku Industri Penjaminan Menatap Indonesia Gemilang. (Inung)

Ketua Asippindo Diding S Anwar saat menyerahkan cinderamata bedah buku Industri Penjaminan Menatap Indonesia Gemilang. (Inung)

JAKARTA (Pos Kota) – Usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) memiliki peran strategis dalam struktur perekonomian Indonesia. Namun, meski punya peran seperti itu, akses pendanaaan UMKM masih rendah, atau belum memiliki akses yang baik.

Menurut Ketua Asosiasi Perusahaan Penjaminan Indonesia (Asippindo) Diding S Anwar, data tahun 2013 menunjukkan jumlah UMKM mencapai 99,9 persen dari total pelaku usaha nasional, penyerapan tenaga kerja 96,9 persen, kontribusi pada PDB 60,34 persen, dan kontribusi pada investasi mencapai 63,4 persen.

Data dari Bank Indonesia menunjukkan sampai 31 Desember 2014 posisi outstanding kredit UMKM hanya Rp 707 T atau 18,7 persen dari total outstanding kredit sebesar Rp 3.779 triliun.

“Salah satu penyebab rendahnya kredit perbankan kepada UMKM adalah terjadinya informasi asimetris antara perbankan dengan UMKM. Dimana calon kreditur tidak memiliki pengetahuan mendalam tentang calon debitur sedang calon debitur berupaya memoles data untuk meningkatkan daya tarik terhadap calon kreditur,” jelas Diding pada bedah buku Industri Penjaminan Menatap Indonesia Gemilang, Senin.

Informasi yang salah ini menyebabkan seleksi dan keliru serta moral hazard. Akibatnya banyak kreditur yang menerapkan penjatahan kredit. Dan UMKM yang tidak memiliki agunan menjadi semakin sulit mengakses pinjaman.

Hadirnya Penjaminan Jadi Solusi

Hadirnya penjaminan diakui Diding menjadi solusi mengatasi permasalahan penjaminan bagi UMKM ini. Penjaminan bisa menjadi jembatan bagi mereka yang usahanya feasible tetapi belum layak memperoleh pendanaan karena kurang memenuhi syarat kredit.

Industri penjaminan itu sendiri terus mengalami pertumbuhan yang signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Total aset industri terus tumbuh dengan CAGR 23,2 persen yaitu dari Rp 3,1 triliun pada 2010 menjadi Rp 8,8 triliun pada Maret 2014.

Terlihat bahwa posisi Perum Jamkrindo dalam industri penjaminan nasional sangat dominan yaitu total aset Rp 3,39 triliun atau 96,06 persen dari aset industri. Data 2014 juga menunjukkan Perum Jamkrindo mendominasi kinerja penjaminan nasional nasional dengan nilai outstanding penjaminan usaha produktif sebesar Rp 38,04 triliun dan total outstanding penjaminan Rp 94,64 triliun. (Inung/win)