Monday, 18 November 2019

Belajar di Warung Kopi

Sabtu, 14 November 2015 — 5:32 WIB

Oleh S Saiful Rahim

“Wassalamu alaykum wa rahmatullahi wa barakatuh,” kata Dul Karung menjawab ucapan assalamu alaykum dari orang yang baru saja masuk ke warung kopi Mas Wargo.

“Panjang amat jawabanmu, Dul?” komentar orang yang duduk tepat di kanan Dul Karung.

“Begitulah yang diajarkan agama. Kalau orang memberi sesuatu yang baik, balaslah dengan yang lebih baik lagi,” kilah Dul Karung.

“Tapi Dul, kata orang Inggris waktu adalah uang. Dan kata orang Arab, waktu laksana pedang. Jadi, gunakanlah waktu sebaik-baiknya. Jangan sia-siakan. Jangan buang-buang waktu. Cari cara membalas yang lebih baik, tapi tidak membuang waktu,” tanggap orang yang duduk di kanan Dul Karung itu.

“Itu kan kata Anda dan kata kita semua. Tapi si Dul ini lain. Dia suka membuang-buang waktu. Lihatlah utangnya pada Mas Wargo. Dari hari ke hari ditunda terus pembayarannya. Itu bukan karena dia nggak punya uang, tapi cuma mau membuang-buang waktu saja,” kata orang entah siapa dan yang mana.

Orang-orang yang mendengar pun tersenyum. Bahkan ada yang tertawa. Tapi tentu bukan si Dul.

“Aku menunda utang sebenarnya karena sedang mencari cara membayar yang baik. Menurut neurosains, potensi intelektual rata-rata manusia belum sampai 5% yang digunakan sekarang ini. Nah, itu kan artinya kecerdasan manusia akan terus tumbuh. Siapa tahu nanti ditemukan cara membayar utang yang baik sekali. Jadi jangan ada yang berpraduga aku tak mau bayar utang kepada Mas Wargo,” kata si Dul dengan yakin dan mencoba meyakinkan.

“Omonganmu bukan konsumsi untuk warung kopi, Dul,” kata orang yang duduk di ujung kiri bangku panjang yang merupakan satu –satunya bangku yang ada di sana.

“Kan di DPR kini sudah tidak ada lagi omongan bermutu. Semua omong kosong. Apa salahnya kalau di warung kopi kita belajar bicara bermutu,” tanggap orang yang duduk selang tiga di kanan si Dul.

“Wah, omongan Bung itu bisa digolongkan melanggar Surat Edaran Kapolri. Bisa kena delik hukum, lho,” sela orang yang duduk di depan Mas Wargo.

“Hwalah. Memangnya Surat Edaran Kapolri itu selebar apa? Apa selebar nusantara sehingga bisa membuat orang di mana-mana pun terkena?” kata orang yang duduk di kiri Dul Karung lugu dan lucu, sehingga beberapa pendengarnya tersenyum.

“Nah, inilah bukti benarnya sabda Nabi Saw. Beliau menyuruh kita belajar sepanjang hayat. Mulai dari buaian sampai kuburan. Dan di mana saja, walaupun di Negeri Cina. Jadi di warung kopi pun kita boleh belajar. Supaya kita bisa memetik pelajaran dari warung kopi, mutu obrolannya harus ditingkatkan. Apalagi di saat obrolan di DPR cuma berkisar tentang uang melulu,” kata Dul Karung sambil buru-buru pergi. ( syahsr@gmail.com )

Terbaru

Senin, 18/11/2019 — 7:20 WIB
Jangan Tipu Diri