Monday, 18 November 2019

Kasus Istri Gugat Cerai Meningkat Tajam

Senin, 14 Desember 2015 — 15:29 WIB
Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto membuka resmi tatap muka pelaku sejarah tokoh perempuan dan pimpinan organisasi perempuan. (Inung)

Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto membuka resmi tatap muka pelaku sejarah tokoh perempuan dan pimpinan organisasi perempuan. (Inung)

JAKARTA (Pos Kota)- Perceraian dengan gugat cerai (istri yang menceraikan suami), cenderung meningkat tajam. Dalam beberapa tahun terakhir diperkirakan 75 persen peceraian akibat gugat cerai.

“Sekarang ada kecenderungan perempuan lebih berani untuk mengambil keputusan cerai,” kata Nasarudin Umar, guru besar Ilmu Tafsir UIN di sela tatap muka pelaku sejarah tokoh perempuan dan pimpinan organisasi perempuan yang digelar Kowani, Senin (14/12).

Ada 13 faktor yang menjadi pemicu perceraian dalam rumah tangga. Tetapi menurut Nasarudin, kasus poligami dan masalah ekonomi menjadi penyebab tertinggi kasus perceraian.

Nasarudin mengingatkan kasus gugat cerai harus diperhatikan betul oleh kaum perempuan. Karena gugat cerai membawa konsekuensi berat utamanya masalah ekonomi.

“Istri yang menggugat cerai, ketika perceraian sudah diputuskan maka tidak ada kewajiban suami untuk memberikan nafkah atau uang idah dan lainnya,” lanjut Nasaruddin.

Kemandirian Perempuan

Sementara itu Ketua Umum Kowani Giwo Rubianto mengatakan kemandirian perempuan dalam hal ekonomi menjadi salah satu penyebab mengapa sekarang perempuan berani menggugat cerai suami. Tetapi keberanian ini sebenarnya sudah kebablasan.

“Jangan karena mandiri secara ekonomi, tidak bergantung pada uang suami, lantas dengan mudah menggugat cerai,” kata Giwo.

Sebab perceraian tidak hanya akan berakibat bagi si perempuan itu sendiri. Tetapi juga situasi dan kondisi anak-anak harus menjadi pertimbangan semua perempuan yang hendak bercerai.
“Cerai akan membuat anak-anak terganggu. Bagaimanapun mereka tidak akan nyaman apalagi jika masing-masing orangtua kemudian memiliki pasangan,” lanjut Giwo.

Kemiskinan Baru

Selain itu perceraian sering menimbulkan kemiskinan baru. Utamanya jika perempuan mendapatkan hak asuh anak sementara suami tidak konsekuen mengirimkan nafkah bagi anak-anaknya.

Karena itu Giwo meminta agar perempuan yang memang memiliki masalah dalam
perkawinannya agar dipikirkan baik-baik sebelum memutuskan cerai. Konsultasikan dengan baik kepada pihak yang berkompeten, pertimbangkan sisi negatifnya. (Inung/win)

  • kapten

    perempuan sekarang ga takut cerai karena urusan uang mandiri (kerja) & urusan biologis nyarinya gampang tinggal umbar selangkangan sm dada di sosmed, jamin ratusan pria ngajak kenalan & ajak bergoyang. perempuan cantik atau ga cantik ga jadi masalah pasang photo berhijab biar terkesan baik2 tapi selalu siap sedia digoyang, fakta hidup perempuan jaman sekarang