Friday, 06 December 2019

Nggak Usah Cari Kambing Hitam!

Rabu, 16 Desember 2015 — 5:45 WIB

“ TIGA RATUS juta?” istri Bang Jalil memekik.

“ Ada apa sih Bu, kok kayanya kaget banget?“ tanya Bang Jalil.

“ Itu Pak, ada artis jualan,” ujar sang istri, sambil meletakkan kopi di dekat sang sumi.

“ Jualan apa sih,Bu?” tanya Bang jalil, pura-pura tidak tahu.

“ Bapak nggak usah pura-pura. Kan yang beli artis-artis cantik itu lelaki, kayak Bapak?” kata sang istri, sengit.

“ Yang beli apa, Bu?” Bang Jalil masih menggoda.

“ Hemm? “ sang istri sediany au marah. Tapi, buat apa marah? Toh, suaminya nggak mungkinlah mampu ‘beli’ artis yang harganya mahal gitu? Wong buat belanja dapur saja pas pasan,kok?

Bang Jalil menyeruput kopi. Dia menarik napas panjang, menghembuskan secara panjang pula. Wusss!
Dia, kadang nggak habis pikir. Orang kok nggak ada puasnya. Padahal kalau dia, katakan itu artis, mau bekerja sebagai artis betulan, serius, profesional, main film, sinetron atau menyanyi, penghasilannya juga nggak sedikit. Banyak dari mereka yang hidup mewah.kok!

“ Tapi, ada yang nggak mau cape Pak. Maunya  enaknya aja, terus terima duitnya banyak!”

“ O, gitu?” Bang Jalil mengiyakan aja. Pikirannya menarawang jauh. Heboh soal artis jual diri bukan yang pertama, sudah sering. Artis tertangkap basah lagi bugil di kamar hotel, kencan sama langganan. Langganan, si hidung belang,  yang mampu membayar ratusan juta. Seratus, dua ratus, sampai tiga ratus juta?

Terus, ya heboh lagi. Ada yang ngaku blak-blakan! Nggak munafiklah! “

Tapi, ada yang mengelak. Membela diri,” Saya ini korban!”

Korban? Ah, yang benar saja. Korban kok ikut  transaksi, korban kok menentukan harga, korban kok mau terima bayaran?

Kalau mau tau, yang namanya korban, tuh wanita yang nggak berdosa dipaksa, diseret dianiaya, diperkosa, seperti yang terjadi beberapa waktu lalu di jembatan penyeberangan orang. Itu baru korban, ngerti?!”  Jangan cari ‘kambing hitam’. Kasihan kambing!  -massoes