Wednesday, 11 December 2019

Baru 160 Ribu Anak Difabel Bisa Akses Pendidikan Formal

Sabtu, 19 Desember 2015 — 11:51 WIB
Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad. (Inung)

Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad. (Inung)

JAKARTA (Pos Kota) – Jumlah anak usia sekolah yang bisa mengakses pendidikan formal masih sangat minim. Dari asumsi populasi 1,3 juta anak difabel di Indonesia baru 260 ribu saja yang sudah bisa sekolah atau baru 11 persen.

Menurut Dirjen Dikdasmen Kemendikbud Hamid Muhammad minimnya jumlah anak difabel yang terakses pendidikan formal salah satunya masih rendahnya kesadaran orangtua untuk menyekolahkan anak.

“Mereka pesimis dan malu, sehingga memilih menyembunyikan anak difabel daripada menyekolahkannya,” kata Hamid usai membuka resmi Hari Disabilitas Internasional Sabtu (19/12).

Padahal pendidikan adalah hak semua anak. Termasuk mereka para penyandang difabel.
Selain rendahnya kesadaran masyarakat untuk menyekolahkan anak difabel, menurut Hamid, fasilitas berupa keberadaan sekolah luar biasa (SLB) juga menjadi faktor pemicu lainnya. Hingga kini masih ada 90 kabupaten yang belum memiliki gedung SLB.

“Gedung sekolah SLB saja belum ada, apalagi kita bicara fasilitas dan daya tampung,” tambah Hamid.

Bangun 30 Gedung SLB

Karena itu tahun 2016 Kemendikbud berencana membangun 30 gedung SLB diberbagai kabupaten. Dengan demikian semua anak-anak difabel bisa mengakses pendidikan formal lebih mudah dan dekat.

“Kita sudah minta kepada kepala sekolah, guru, yayasan dan tokoh masyarakat untuk mencari anak-anak difabel agar bisa sekolah,” tukasnya.

Hamid mengakui meski difabel banyak diantara mereka yang memiliki prestasi cemerlang hingga ketingkat dunia. Salah satunya adalah kemampuan penyandang cacat dengan satu kaki yang bisa mendaki puncak gunung di Eropa.

Lebih lanjut Hamid mengakui bahwa selain rendahnya akses pendidikan anak-anak difabel, hingga kini jumlah perusahaan yang mau menerima penyandang difabel untuk bekerja juga masih terbatas. Padahal banyak diantara kaum difabel yang memiliki tingkat pendidikan tinggi atau sarjana. (Inung/win)