Monday, 16 December 2019

Pembunuhan Minoritas oleh ISIS ‘Dapat Disebut Sebagai Genosida’

Senin, 21 Desember 2015 — 16:58 WIB
Tulang belulang  dari etnis Yazidi diduga korban pembunuhan yang dilakukan ISIS (reuters)

Tulang belulang dari etnis Yazidi diduga korban pembunuhan yang dilakukan ISIS (reuters)

LONDON- Pembunuhan terhadap minoritas oleh kelompok yang menyebut diri sebagai Negara Islam ISIS, dapat disebut sebagai genosida, seperti disampaikan oleh 60 anggota parlemen dalam surat kepada PM Inggris.

Puluhan anggota parlemen itu mendesak PM Inggris David Cameron agar menggunakan pengaruhnya untuk menjangkau sebuah kesepakatan dengan PBB bahwa istilah genosida dapat digunakan.

Langkah ini akan memberikan pesan bahwa siapa yang bertanggung jawab dapat ditangkap, diuji dan dihukum, jelas surat tersebut.

Surat itu juga menyebutkan ISIS telah melakukan pembunuhan terhadap kelompok minoritas secara sistematis, termasuk warga Kristen Irak dan Suriah serta etnis Yazidi.

PBB telah menyebut perlakuan ISIS terhadap etnis Yazidi sebagai bukti bahwa ISIS telah melakukan genosida dan kejahatan perang di Irak.

Organisasi HAM memperingatkan kelompok jihadis juga berupaya untuk memberantas kelompok minoritas di sebagian besar wilayah di negara tersebut.

‘Bukan semantik’

Surat, yang ditulis oleh anggota parlemen Rod Flello dan David Alton, mengatakan ada bukti yang jelas seperti pembunuhan para pemimpin gereja, penyiksaan, penculikan untuk meminta tebusan di kalangan komunitas Kristen Irak dan Suriah, serta “perbudakan seks dan pemerkosaan sistematis oleh anak-anak perempuan dan perempuan Kristen”, oleh ISIS.

Surat itu menyebutkan:”Ini bukan hanya sekedar semantik.

“Bisa jadi ada dua manfaat utama dari penerimaan oleh PBB bahwa genosida telah dilakukan.

“Pertama, itu akan mengirimkan sebuah pesan yang jelas kepada semua yang mengorganisasi dan melakukan pembunuhan ini bahwa untuk beberapa titik di masa depan mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh komunitas internasional atas tindakan mereka; mereka akan ditangkap, diproses dan dihukum.

“Kedua, itu akan mendorong 127 negara yang menandatangani konvensi untuk menghadapi tugas mereka supaya mengambil tindakan yang diperlukan “untuk mencegah dan menghukum” para pelaku kejahatan.”

Pada awal tahun ini, sebuah laporan organisasi HAM Minority Rights Group merinci tentang eksekusi, pemaksaan pindah agama, pemerkosaan dan kekerasan lain yang diderita oleh minoritas Irak.

ISIS muncul di Suriah, bertempur dengan ‘pasukan’ Presiden Bashar al-Assad dalam perang saudara.

Pada Juni 2014, kelompok ini resmi mengumumkan pendirian sebuah “kekhalifahan”- membentuk pemerintahan dengan menerapkan hukum Islam atau syariah, dipimpin oleh wakil Tuhan di dunia atau khalifah.

Anggota ISIS merupakan jihadis yang mengikuti interpretasi Islam Sunni yang ekstrim dan mempertimbangkan diri mereka sendiri sebagai satu-satunya penganut yang taat. Mereka meyakini seluruh dunia dibuat oleh orang-orang kafir yang ingin menghancurkan Islam, membolehkan serangan terhadap orang Muslim yang lain dan non Muslim.

Pemenggalan, penyaliban dan penembakan massal telah digunakan untuk meneror para musuh. Para anggota ISIS membenarkan aksi-aksi tersebut dengan mengutip Qur’an dan hadis, tetapi Muslim mengecam mereka.(BBC)