Monday, 14 October 2019

Rusia Bantah Tudingan Amnesty Terkait Serangan Udara di Suriah

Kamis, 24 Desember 2015 — 9:31 WIB
Serangan udara Rusia di Idlib (29/11), Suriah menewaskan 49 orang.

Serangan udara Rusia di Idlib (29/11), Suriah menewaskan 49 orang.

MOSCOW- Rusia menolak tudingan Amnesty International bahwa serangan udaranya ke Suriah ‘disasarkan’ kepada rakyat sipil. Rusia balik menuding Amnesty “menyebarkan kebohongan”.

Juru bicara kementerian pertahanan Rusia, Igor Konashenkov menegaskan “tidak ada hal baru” dalam laporan Amnesty tersebut.

“Semuanya klise. Sudah berkali-kali ada laporan seperti ini,” ungkap Konashenkov.

Dalam laporannya Amnesty mengungkapkan selama dua hingga tiga bulan pertama serangan udara Rusia di Suriah, 200 warga sipil telah menjadi korban.

Konashenkov menilai Amnesty melakukan penelitiannya ‘dari jauh’, tanpa melihat langsung bukti-bukti di lapangan, apakah ada militan yang juga terkena serangan di area tempat warga sipil menjadi korban.

Dia beralasan militan menggunakan senjata yang dipasang di berbagai kendaraan, sehingga “setiap kendaran bisa menjadi target.”

Berdasarkan catatan Amnesty International, sepanjang 30 September hingga 29 November, Rusia telah melakukan lebih dari 25 serangan di Homs, Hama, Idlib, Latakia dan Aleppo.

Salah satu pejabat Amnesty menyebut, beberapa serangan Rusia bahkan bisa disebut “kejahatan perang”.

Human Rights Watch bahkan menuduh, bahwa Rusia, dalam serangan udaranya ke Suriah, menggunakan cluster munitions atau bom tandan, bom yang berisi bom-bom lebih kecil dengan daya ledak yang lebih luas.

Namun juru bicara presiden Rusia, Dmitry Peskov menegaskan bahwa Rusia “menjalankan operasinya sesuai dengan norma dan aturan hukum internasional

Selain itu, Konashenkov berujar, “Kami tidak menggunakannya (bom tandan), karena tidak memiliki senjata seperti itu di pangkalan militer Rusia di Suriah.”

Rusia memulai serangan udaranya di Suriah pada September 2015, berdasarkan permintaan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Serangan disebut menarget ISIS dan kelompok militan lainnya.(BBC)