Friday, 06 December 2019

Dosen UNJ Desak Rektor Cabut SK Pemecatan Ronny

Rabu, 6 Januari 2016 — 14:42 WIB
unj-sub

JAKARTA (Pos Kota) – Pemecatan terhadap Ronny Setiawan, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menuai reaksi dari dosen kampus tersebut. Pelaku pendidik perguruan tinggi negeri itu menuntut sang rektor mencabut SK pemecatan terhadap mahasiswa Fakultas MIPA itu.

Hal tersebut diungkapkan Dosen Universitas Negeri Jakarta, Ubedillah Badrun yang menyatakan seluruh dosen UNJ menuntutu Rektor Djaali agar mencabut SK pemecatan terhadap mahasiswa UNJ Ronny Setiawan. “Dosen-dosen muda UNJ sedang mendesak agar rektor mencabut SK- nya, kalau tidak berhasil, maka tidak bisa dihindari ada sosial movement yang besar,” ujar Ubedillah, Rabu (6/1/2016).

Desakan untuk pencabutan ini dikatakan pria Ubedillah juga akan datang dari mahasiswa. Menurutnya dalam 1-2 hari tidak dicabut, maka ribuan mahasiswa akan turun untuk melakukan aksi mendesak rektor UNJ mencabut SK pemecatan Ronny. “Konsolidasi mahasiswa sangat cepat dalam menyikapi kasus ini,” ungkapnya.

Lebih lanjut Ubedillah mencurigai adanya tekanan dari piahk tertentu untuk memecat Rony Setiawan sebagai mahasiswa Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mengingat Ronny tokoh penting BEM Seluruh Indonesia (SI) yang selama ini bergerak untuk menuntut pencopotan Jokowi-Jusuf Kalla. “Ada semacam gerakan yang sedang menekan rektor, oleh karena itu kami (dosen) akan menyampaikan kritik jika rektor membuat keputusan dengan dasar emosional,” katanya.

Diberitakan sebelumnya, Mahasiswa Jurusan Kimia Fakultas MIPA UNJ bernama Ronny Setiawan diberhentikan lewat Surat Keputusan nomor : 01SP/2016 yang dikeluarkan Rektor UNJ, Djaali tertanggal 4 Januari 2016.

Di poin D surat itu, tertulis alasan sang rektor memberhentikan Ronny adalah karena dianggap telah melakukan tindakan yang tergolong sebagai perbuatan kejahatan berbasis teknologi, pencemaran nama baik dan tindakan penghasutan.(guruh)

  • editor asu

    pantesan mahasiswa indon pada goblok dosen2nya ternyata kelas kampung