Saturday, 07 December 2019

Dulu Jual-jual, Sekarang Kok Kritik BUMN?

Rabu, 13 Januari 2016 — 5:20 WIB

KRITIK keras Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri terkait pengelolaan BUMN di era Presiden Jokowi, seperti melupakan perannya di masa lalu, yang sering memberikan citra negatif masa kepemimpinannya: Bagaimana seorang presiden yang dulunya banyak menjual BUMN, kini justru mengritik pemerintah dalam mengelola BUMN ?

Rakyat belum lupa pada masa kepemimpinannya (2001-2004). Setelah Gus Dur turun, dan Megawati ngantor di istana, dia menjual Indosat, Kimia Farma, Indofarma, Indocement Tunggal Prakarsa, Tambang Batubara Bukit Asam, Angkasa Pura II, dan Wisma Nusantara, juga melego Telkom. Belum lagi penjualan saham PT Gas Negara, Bank Mandiri dan BRI, yang kemudian memberikan cap buruk padanya – menjadi bahan kampanye negatif lawan politik untuk menjegal kampanyenya.

Penjualan PT Indosat dan Telkom paling disorot. Karena dua perusahaan raksasa itu mendatangkan keuntungan berlimpah, saham dua perusahaan telekomuniasi itu pernah loncat hingga Rp 26,740 triliun. Sayang keuntungan itu justru masuk kantong Temasek, BUMN Singapura yang menguasai saham keduanya.

Harus diakui, ekonomi sedang morat-marit masa itu, dan menjual BUMN menjadi alternatif agar negara bisa jalan, menutup APBN yang lagi tekor (defisit).

Lalu, mengapa kini dia seolah tahu benar bagaimana seharusnya mengelola BUMN, dan “sok” prihatin karena pengelolaan BUMN sekarang “hanya mencari untung” ?

Sudah bukan rahasia lagi, Megawati sedang membidik Menteri BUMN Rini Soemarno, mantan Menteri Perdagangan di era kemimpinannya, yang kini lebih  dekat dengan Jokowi.

Ketum PDIP itu boleh jadi mengira pos pos “basah” di sejumlah BUMN akan diberikan kepada kader-kadernya, dan bukan tim relawan Jokowi.  Tapi era baru sudah dimulai, aset negara di BUMN senilai Rp4.600 Triliun bukan lagi bancakan partai berkuasa dan penguasa  – seperti sebelumnya –  melainkan dikelola profesional, untuk dilipat-gandakan.

Berbeda dengan zaman Soeharto di mana BUMN dikebiri, dan proyek kakap diberikan kepada konci-konco konglomerat pendukungnya, di masa kini BUMN harus menguntungkan negara, sebagaimana BUMN Singapura dan Tiongkok.  Pertamina, PLN, Pelindo, Garuda, Angkasa Pura, Pelindo, PT Pos, PT Kereta Api, Pelni bukanlah sapi gemuk yang terus menerus diperas untuk mendanai roda partai dan oknum oknum petinggi negara.
Kubu PDIP semakin cemburu pada Rini Soemarno karena dia mendapat suntikan modal dari APBN, sampai Rp104 triliun. Jumlah yang tentulah bikin ngiler, bikin senewen, karena tak bisa ikut menikmati.
Itulah,  agaknya, kenapa kemarin “BuDhe” ngomel-ngomel.  – dimas