Saturday, 14 December 2019

Ancam Menteri Yuddy, Guru Honorer Ditangkap Polisi

Rabu, 9 Maret 2016 — 21:18 WIB
Mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi.

Mantan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) dan Reformasi Birokrasi, Yuddy Chrisnandi.

JAKARTA (Pos Kota) – Mmengancam Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Indonesia (Menpan RB) Yuddy Chrisnandi lewat SMS, seorang guru honorer, diamankan Polda Metro Jaya di Brebes, Jawa Tengah.

Tersangka, Mashudi (38) adalah guru honorer di satu SMAN Ketanggung Brebes. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Mohammad Iqbal, mengatakan penangkapan tersangka bermula dari laporan Reza Fahlevi selaku sekretaris pribadi Menpan RB dengan nomor LP/942/II/2016/PMJ tertanggal 28 Februari 2016.

Menurutnya, modus pelaku adalah mengirimkan pesan berisi ancaman melalui SMS kepada korban menggunakan nomor 085842093206/087730837371, sekitar bulan Desember 2015 sampai Februari 2016. “Pelaku mengirimkan pesan ancaman serius ke nomor pribadi Pak Menteri,” ungkap Iqbal, Rabu (8/3/2016).

Menurutnya, diduga oelaku melayangkan ancaman itu karena kesal tidak mengangkatnya menjadi guru tetap. “Barang bukti yang disita satu buah handphone dan dua sim card,” tandasnya.

Menanggapi kasus itu. Kepala Biro Hukum, Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian PANRB, Herman Suryatman, mengatakan Desember 2015 sampai Februari 2016, ada orang yang mengirimkan SMS ancaman. Pesan berulang kali kepada nomor HP pribadi Yuddy Chrisnandi.

“SMS ancaman tersebut dikirimkan berulang kali sejak Desember 2015. Terakhir Februari 2016 mengancam keselamatan jiwa pak Yuddy dan keluarga. Karena teror itu sudah keterlaluan, maka dilaporkan ke polisi oleh sekpri beliau pada tanggal 28 Februari 2016,” kata Herman.

Setelah dilaporkan, Tim Cyber Crime Polda Metrojaya melakukan pendalaman dan penyelidikan, serta akhirnya terduga pengirim SMS tersebut dapat diidentifikasi dan diamankan. Herman menegaskan bahwa pelaporan tersebut sama sekali tidak ada kaitannya dan tidak ada hubungannya dengan latar belakang maupun profesi yang bersangkutan.

“Pada saat melaporkan ke polisi, pelapor yakni saudara Reza Fahlevi maupun Pak Yuddy, sama sekali tidak mengenal identitas yang bersangkutan. Yang dilaporkan adalah adanya ancaman yang dikirim melalui nomor handphone yang tidak jelas siapa pemiliknya,” tuturnya.

Kalaupun yang bersangkutan diketahui belakangan berprofesi sebagai tenaga honorer, ungkap Herman, itu baru terungkap setelah diamankan oleh polisi. Karena itu Herman meminta kepada semua pihak untuk melihat persoalan ini secara jernih dan proporsional.

“Kita negara hukum, bukan negara kekuasaan. Kita semuanya sama di depan hukum. Karena itu, mari beri kesempatan penegak hukum untuk melaksanakan tugasnya dengan baik. Ini murni dugaan tindak pidana,” pungkas Herman.

Akibat perbuatannya, pelaku terancam dijerat Pasal 29 dan atau Pasal 27 ayat (3) Undang-undang ITE, dan atau Pasal 335 KUHP, Pasal 336 KUHP, Pasal 310 KUHP, Pasal 311 KUHP, dengan ancaman pidana maksimal 9 tahun penjara. (ilham)