Saturday, 07 December 2019

Kita Ini ‘Turunan’ Berutang!

Rabu, 6 April 2016 — 5:55 WIB

SUDAH tak tersisa. Nggak punya lagi barang sebagai jaminan utang. Semua sudah digadaikan.
“ Masih ada sisa, harga diri kita.Mudah-mudahan nggak tergadai juga!” ujar Bang Jalil pagi itu sambil menghitung uang hasil gadai motor semata wayangnya.” Makanya jangan terlalu boros, Bu!”

Sang istri memandang tajam pada sang suami. Boros apanya, ya? Selama ini makan seadanya, pakaian juga jarang beli. Belanja ke mal juga nggak. Paling banter beli daster sama si Mpok penjual keliling, Pak,” ujar sang istri.

Bang Jalil menyesal juga, keceplosan menuduh sang istri. Padahal memang benar, istrinya selama ini belanja keperluan sehari-hari apa adanya. Yang terjadi adalah, bahwa ekonomi semakin berat karena harga-harga barang naik terus, sementara penghasilan tidak seimbang. Kata pepatah,’ Lebih besar pasak dari pada tiang!’.

Jadi apa lagi? Ya, ketika banyak iming-iming pinjaman lunak? Seperti gadai, ya apa boleh buat. Begitu juga yang dilakukan Bang Jalil, ketika hari itu butuh duit kontan yang jumlahnya cukup lumayan, terpaksa harus banting stir. Ya, apa boleh buat juga, karena stir mobil nggak punya, adanya speda motor, ya ‘stir’ motor yang digadaikan.

“ Sudahlah Pak.Bapak nggak usah mengeluh. Nikmati aja. Yang penting sekarang ini kita berdoa bisa lancar membayar cicilan, jangan sampai nunggak. Kan nggak enak kalau motor kita disita. Malu sama tetangga!” ujar sang istri.

“ Tapi kita jadi punya utang, ya Bu?” kata Bang Jalil.

“ Kita ini memang turunan berutang. Negara juga punya utang. Nggak tau berapa jumlahnya. Bapak tau nggak jumlah utang negara?” tanya sang istri.

Bang Jalil menggeleng. Menyelonjorkan kakinya yang mulai semutan, lalu menyeruput kopi itemnya. Seruputtt, nikmat! Sementara lupa deh, sama utang! -massoes