Monday, 21 October 2019

KH Hasyim Muzadi Tak Ikut Desak Jokowi Minta Maaf Kepada Korban 65

Selasa, 19 April 2016 — 19:59 WIB
Hasyim Muzadi KH

JAKARTA (Pos Kota) – KH Hasyim Muzadi menegaskan,  dirinya tidak ikut, apalagi menyetujui apa yang terjadi dan menjadi arah simposium korban 65 untuk mendesak Presiden Jokowi agar atas nama negara meminta maaf kepada korban 65.

Anggota Dewan Presiden ini menerangkan beberapa hal bahwa, desakan tersebut pasti membebani presiden baik secara politik, keamanan maupun ekonomi, bahkan bisa terjadi kegoncangan.

“Semenjak kampanye presiden, saya pernah menyampaikan kepada Pak Jokowi di kediaman beliau di Solo bahwa untuk membangun Indonesia baru bisa dirasakan kalau waktu menjabatnya 10 tahun. Oleh karenanya, saya bersedia secara tulus mengantar umroh ke Mekah waktu minggu tenang agar hilang anggapan bahwa Pak Jokowi adalah Kristen, atheis dan sebagainya,” katanya, Selasa (19/4), di Jakarta.

Menurut Pengasuh Pesantren Al-Hikam ini, lanjutnya,  kalau yang dimaksud adalah “negara” yang meminta maaf kepada korban 65, tentu salah alamat karena negara tidak pernah salah apa-apa.

“Yang bisa salah adalah rezim sebuah pemerintahan dalam masa pemerintahannya. Mengapa kejadian zaman pemerintahan Pak Harto harus Pak Jokowi yang meminta maaf?” kata Hasyim menambahkan.

Negara indonesia sampai hari ini sudah berganti 7 rezim pemerintahan. “Kalau dikembalikan ke zaman Pak Harto, sekarang ini sudah banyak yang wafat, juga demikian korban 65, lalu siapa meminta maaf siapa?” ujarnya.

Sekjen International Conference of Islamic Scholars (ICIS), menegaskan tuntutan permintaan maaf ini hanya dilakukan melalui pendekatan HAM saja.

“Sedangkan korban 65 langsung atau tidak langsung berkaitan dengan peristiwa G30SPKI, kenapa tidak dilakukan secara seimbang antara HAM dan pemberontakan? Kalau seimbang baru diketahui pelanggaran HAM sebagai ekses,” katanya. (rizal/win)