Sunday, 17 November 2019

Lain Dulu, Lain Sekarang

Senin, 25 April 2016 — 5:16 WIB

DULU benci sekarang suka memuji-muji. Nggak aneh, ini sifat manusia. Munafik? Oh, jangan buruk sangka dulu. Sifat manusia kan boleh-boleh saja berubah? Kalau dulu jahat, sekarang jadi ustadz, malah lebih baik kan? Yang nggak boleh, kalau dulu ustadz sekarang jadi penjahat!

“ O, jadi begitu ya? Ngomong-ngomong Bapak masuk golongan yang mana?”
“ Saya nggak punya golongan. Saya nggak kemana-mana, tapi ada di mana-mana,” ujar Bang Jalil, meniru ucapan almarhum KH Zainudin MZ.

“ Bapak ngobrol sama siapa?” tanya sang istri ketika Bang Jalil meletakan HP-nya yang barusan dipakai bicara.

Bang Jalil nggak menjawab, dia malah menyeruput kopi yang disediakan istrinya.
“ Hemm, jangan bilang dari istana, ya Pak?” kata sang istri menggoda.

Bang Jalil nyengir. Lalu dia bicara dalam hati; “ Enakan jadi orang politik,ya. Bisa ngapain aja, bisa ngong apa aja, bisa saling memaki, bisa ngomong begini begitu, janji-janji muluk tapi nggak ditepati. Bisa mengkritik, menyindir waktu jadi musuh, tapi ketika ditendang partainya, kini memuji-muji lawannya, agar dipeluk, bisa bergabung. Nggak tau malu!”

“ Udah, nggak usah dipikirin. Inget Bapak juga dulu begitu sama Ibu. Suka ngatain, aku dibilang jelek-lah, item-lah. Tapi, ketika Bapak ditolak sama pacar lamanya, langsung ngerayu. Ibu dibilang item gula jawa, biar item manisnya nggak terhingga. Item-item kereta api, biar item selalu dinanti?”

“ Ibu memang manis..,” ujar Bang Jalil sambil menyeruput kopi yang manis.

“ Hemmm, pasti ada maunya? Tapi, sebelum ngerayu jangan lupa uang belanja, “ ujar sang istri.

Bang Jalil paham, urusan ini itu termasuk proyek biar gol, ujung-ujungnya harus diselesaikan dengan duit. Beres, dah! -massoes