Friday, 18 October 2019

Menyesal Kawini Janda Tua, Anak Tiri Buat Pelampiasan

Sabtu, 7 Mei 2016 — 6:35 WIB

DARWIN, 30, sungguh menyesal kawin dengan janda tua, Maridah, 40. Masak hanya jadi “generasi penerus” sepanjang umurnya? Untuk merasakan bagaiman asyiknya “mbelah duren” dia nekat memperkosa Wiwin, 13, anak tirinya. Berhasil sampai lima kali memang, tapi habis itu Darwin digelandang ke kantor polisi.

Setiap bujangan selalu mendambakan, dapat istri yang perawan dan cantik. Tapi tak semua target itu tercapai. Bisa karena jeleknya peruntungan, bisa pula karena jeleknya kondisi anatomi dan ekonomi. Maklum, di era gombalisasi ini cewek lebih mementingkan uang ketimbang tampang. Maka banyak perempuan cantik kawin dengan lelaki jelek, karena yang penting pinter cari duit.

Lelaki malang itu di antaranya adalah Darwin warga Nasal, Bengkulu. Hingga usia 27 tahun belum juga dapat jodoh. Atau tepatnya, tak ada perempuan yang mau dengannya. Sebab di samping wajah sangat standar, ban belum radial, pekerjaan Darwin juga tak jelas. Maka setiap wanita yang ditaksirnya selalu menghindar. Katanya, kawin sama Darwin sama saja mengembang-biaakkan kere.

Faktor kepenganggurannya ini memang sangat disadari oleh Darwin. Dia sudah mencari pekerjaan ke sana kemari, tapi tak ada kantor yang menerima. Ingin sebetulnya dia masuk BPK, tapi dia kan bukan politisi Senayan yang tidak terpilih lagi. Termasuk nekat juga memang jika Darwin mimpi jadi anggota BPK. Jangankan tahu ilmu akutansi, lha wong berhitung pakai biji sempoa saja nggak bisa.

Allah memang takkan menguji umatnya di luar batas kemampuan. Sehingga setelah menjomblo hingga 28 tahun usianya, Darwin ketemu janda setengah tua, Ny. Maridah. Rupanya si cewek yang naksir duluan. Sebetulnya Darwin kurang sreg, sebab di samping sudah janda, ada anak bawaan yang sudah berumur 11 tahun kala itu. Tapi yang menarik, janda Maridah ini punya usaha yang mantap, sehingga nantinya bisa dijadikan sandaran ekonomi.

Jadilah dia menikah dengan janda Maridah dengan maskawin yang semua disponsori si janda. Bagi Darwin sekarang, ibarat sepeda motor tinggal nyemplak, soal BBM dan spareparts urusan Maridah. Dan setelah menjadi kepala keluarga, dia sehari-hari bantu usaha istrinya itu. Santai sajalah, sebab yang penting baginya: rajin olahraga, rajin minum obat kuat, sehingga tugas sebagai suami di malam hari selalu prima.

Sayangnya, Darwin ini termasuk lelaki pembosan. Menikahi janda, kan sama saja hanya menjadi “generasi penerus”. Dia ingin sekali bagaimana rasanya “mbelah duren” yang mateng puun itu. Hidup hanya sekali, masak nggak sempat “mbedhah praja mboyong putri” sebagaimana kata orang Jawa.

Obsesi “mbelah duren” rupanya kadung mendominasi otak Darwin. Maka sebelum 14 remaja di kotanya memperkosa bocah Yuyun, malam-malam dia sudah nekat masuk kamar anak tirinya, si Wiwin. Kala itu istrinya memang sudah tertidur lelap, sehingga dengan ancaman berhasilah Darwin “mbelah duren” secara paksa.

Ternyata sukses di kesempatan pertama menjadikan dia ketagian. Lain hari ketika istrinya terlelap tidur, kembali Darwin menggarap Wiwin. Sampai kemudian satu ketika kepergok istri ketika keluar dari kamar si Wiwin. Maka suaminya pun diinterogasi, tapi selalu mengelak. Baru setelah si Wiwin dipaksa mengaku, keluarlah pengakuan si bocah bla bla bla…….

Sudah barang tentu Ny. Maridah marah besar. Esok paginya dia melapor ke Polsek Nasal dan Darwin pun ditangkap. Dalam pemeriksaan dia mengakui bahwa sudah 5 kali menodai anak tirinya. Kenapa sebegitu nekad, alasannya seperti yang sudah diungkap di atas, ingin “mbelah duren” yang mateng puun.

Yang tak pernah dimakan bajing dan ulat, ya? (JPNN/Gunarso TS)