Tuesday, 12 November 2019

Menaker: Pelatihan di BLK Harus Sesuai Kebutuhan Industri

Senin, 9 Mei 2016 — 14:33 WIB
Menaker meresmikan BLK Bantaeng di Sulawesi Selatan, disaksikan Sekjen Kemnaker Abdul Wahab Bangkona, dan pejabat setempat (tri)

Menaker meresmikan BLK Bantaeng di Sulawesi Selatan, disaksikan Sekjen Kemnaker Abdul Wahab Bangkona, dan pejabat setempat (tri)

JAKARTA (Pos Kota) – Pelatihan kerja di BLK (balai latihan kerja) harus sejalan dengan kebutuhan industri dan sesuai dengan potensi yang ada di daerah.

Hal tersebut ditegaskan Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) M. Hanif Dhakiri saat meresmikan Balai Latihan Kerja (BLK) Kabupaten Bantaeng Provinsi Sulawesi Selatan, Senin (9/5)

Menurutnya, pengembangan SDM sangat penting untuk menunjang daya saing tenaga kerja terlebih di era Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) saat ini.

MEA, lanjut Hanif, memberikan dampak terhadap perekonomian Indonesia baik dari sisi perputaran barang dan jasa, termasuk didalamnya pada aspek ketenagakerjaan.

Sebagai bangsa yang besar dengan potensi kekayaan alam serta keanekaragaman hayati yang melimpah, Ia berharap Indonesia mampu memainkan peran penting dalam pergulatan perdagangan bebas barang dan jasa di kawasan ASEAN tersebut.

“Saya sampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada Bapak Gubernur Provinsi Sulawesi Selatan beserta jajarannya serta Bapak Bupati Bantaeng beserta jajarannya yang telah memberikan dukungan bagi Kementerian Ketengakerjaan melalui pendirian Balai Latihan Kerja Bantaeng,” kata Hanif.

 

TEREALISASI

Ditambahkannya, melalui dukungan Pemerintah Daerah serta pendanaan dari alokasi anggaran APBN Ditjen Binalattas Kemnaker yang distribusikan dalam 3 tahun anggaran, akhirnya pembangunan BLK Bantaeng bisa terealisasikan dan berfungsi sebagai sebagai Unit Pelaksana Teknis Pusat Ditjen Binalattas, Kemnaker.

Pelatihan di BLK Bantaeng, lanjutnya, akan menjadi bukti konkrit pelatihan berbasis kompetensi yang benar-benar mengacu pada standar kompetensi kerja dan kebutuhan SDM dari perusahaan pengguna.

Selain itu, hanif juga berharap Direktur Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas (Dirjen Binalattas) dan jajarannya benar-benar serius melaksanakan pelatihan di BLK Bantaeng secara profesional dan konsisten serta menjalin komunikasi yang intensif dengan pihak mitra sehingga output pelatihan dari BLK Bantaeng ini benar-benar dapat 100 persen terserap bekerja di industri.

“Saya mendapat laporan dan menyambut baik bahwa meskipun baru diresmikan saat ini, sebagai langkah awal BLK Bantaeng telah melakukan kerjasama teknis dengan JICA-Ehime Toyota,” kata Hanif.

Kerjasama yang terwujud dalam bentuk pengembangan instruktur untuk mekanik mobil di Bantaeng ini akan berlangsung selama 2 tahun, di mana lulusan pelatihan ini nantinya akan disetarakan dengan kualifikasi mekanik mobil Toyota level 2 (level master).

“Saya berharap ke-16 peserta pelatihan ini berhasil memenuhi kualifikasi setara level 2 mekanik mobil Toyota tersebut, sehingga mereka dapat bekerja sebagai mekanik di perusahaan-perusahaan otomotif setara Toyota,” katanya.

Dalam paradigma pengembangan SDM berbasis kompetensi, pelatihan yang diselenggarakan oleh setiap lembaga pelatihan harus mengacu kepada standar-standar penyelenggaraan pelatihan yang telah ditetapkan, seperti Standar Kompetensi, instruktur atau fasilitator, sarana dan fasilitas maupun manajemen pelatihan.

Menaker meyakini, capaian awal pelatihan yang diraih oleh para peserta pelatihan ini merupakan bentuk sinergi yang terjalin antara Pemerintah, Swasta dan Masyarakat. Upaya peningkatan kompetensi masyarakat yang diupayakan oleh Pemerintah tidak akan berjalan tanpa good will (itikad baik) dari Pemerintah Daerah, swasta dan masyarakat.

(tri/sir)