Sunday, 15 December 2019

RUU RTRI Untuk Perkuat TVRI dan RRI, Bukan Untuk Saingi Swasta

Selasa, 31 Mei 2016 — 17:29 WIB
Diskusi forum Legislasi ,dengan tema:”RUU Radio  Televisi Republik  Indonesia (RTRI) “ ,dengan narasuber ,Anggota Komisi I DPR RI,Arif  Suditomo (tengah)  RRI, Drs.Kabul Budiono (kanan)  SCTV,Noerjaman (kiri)  bertempat di ruang Pressroom /Media Center  DPR RI Senayan jakarta   (timyadi)

Diskusi forum Legislasi ,dengan tema:”RUU Radio Televisi Republik Indonesia (RTRI) “ ,dengan narasuber ,Anggota Komisi I DPR RI,Arif Suditomo (tengah) RRI, Drs.Kabul Budiono (kanan) SCTV,Noerjaman (kiri) bertempat di ruang Pressroom /Media Center DPR RI Senayan jakarta (timyadi)

JAKARTA (Poskotanews) – RUU Radio dan Televisi Republik Indonesia (RTRI) diancangkan untuk memperkuat eksistensi negara dan keutuhan NKRI. Maka, keberadaan keduanya harus diperkuat untuk menyajikan khazanah keindonesiaan, dan bukan menyaingi swasta

“Ke depannya, RUU RTRI ini untuk menguatkan penyiaran RRI dan TVRI. Jadi,  bukan untuk mengejar swasta, melainkan sebagai siaran radio dan TV yang menyajikan berbagai khazanah keindonesiaan; kultur, tradisi, budaya, perilaku yang sopan-santun, dan moralitas dari Sabang – Merauke sekaligus untuk menjaga kedaulatan NKRI,” kata Anggota Komisi I DPR RI Arief Suditomo, dalam Forum Legislasi di DPR, Selasa (31/5) .

Menurut dia,  RTRI ini sebagai alat untuk menjaga keutuhan dan kedaulatan NKRI. Karena itu harus menyiarkan berita-berita khas keindonesiaan; budaya, kultur, tradisi, perilaku, moralitas bangsa yang luhur dari Sabang – Merauke.

“Seperti halnya acara ‘Bocah Petualang’. Sebab, kalau anak-anak saat ini lebih senang nonton budaya asing, primordialitas makin kuat, maka kedaulatan kita makin terancam. Untuk itu, RRI dan TVRI harus diperkuat melalui RUU RTRI ini,” tegas politisi Hanura itu.

Dalam diskusi RUU RTRI juga menghadirkan praktisi RRI M Kabul Budiono, dan mantan Pemred SCTV Nurjaman Mochtar di Gedung DPR RI Jakarta.

Arief Suditomo optimis dengan RUU RTRI ini, RRI dan TVRI akan mampu go public, melebihi siaran swasta, jika semua lapisan masyarakat komitmen untuk mendukung dan melaksanakan RUU ini.

“Justru UU ini memberi kesempatan kepada RRI dan TVRI untuk melahirkan sumber daya manusia (SDM) yang professional dan sumber dana yang kuat oleh negara. Apalagi tugas RRI dan TVRI lebih mulia untuk kepentingan bangsa dan negara. Bahkan pada saatnya rakyat akan rindu dengan TVRI sebagai rumah budaya bangsa,” ujarnya.

Pada prinsipnya kata Arief, TVRI dan RRI bukan untuk mengejar keuntungan, profit orientad, komersial, melainkan untuk memberikan pencerahan dan mempertahankan kedaulatan negara.

Terlebih saat ini menikmati siaran radio dan TV tidak lagi harus di rumah, tapi bisa didengar dan dilihat dari handpone di tangan, untuk kapan, dan dimana saja setiap saat, sesuai keinginan.

Bahkan Arief yakin bisa RRI dan TVRI sama dengan BBC, NHK, EBC, dan lain-lain. Dengan RUU ini RRI dan TVRI akan menjadi penyeimbang industri siaran TV swasta dalam konteks dunia yang lebih besar.

Kabul Budiono mendukung RUU ini, karena memang ada hal-hal yang secara prinsip berbeda dengan swasta. Hanya saja kalau dijadikan satu, maka misi dan visi antara RRI dan TVRI juga harus satu, karena ada di tangan menejemen yang satu dan pasti akan lebih kuat.

Karena itu dari sisi penguatan kelembagaan melalui RUU ini harus ada kepastian. “Mengingat sering terjadi benturan antara realitas dan idealitas yang sulit dilaksanakan di lapangan,” tambahnya.

Meski secara psikologis, manejemen, dan sebagainya pasti akan mengalami gesekan-gesekan, dan benturan, namun bisa diatasi. Jadi, program RRI dan TVRI berbeda karena memang tidak berorientasi profit orientad, karena sifatnya independen.

“Yang mempunyai misi pendidikan, pencerahan, keadaban, untuk rakyat seluruh Indonesia. Seperti penampilan anak di TV swasta, pasti berbeda dengan di TVRI. Kalau di swasta cukup dengan jingkrak-jingkrak, tapi di TVRI bagaimana anak itu mampu memahami dirinya sebagai anak Indonesia. Selain itu ada hal-hal yang bersifat universal, karena RRI dan TVRI untuk melayani seluruh rakyat Indonesia, dan bahkan WNI yang ada di luar negeri,” tutur Kabul Budiono.

Nurjaman Muchtar menilai jika pudarnya TVRI pasca reformasi itu karena TVRI identik dengan suara pemerintah. Karena itu TVRI harus lebih kreatif di era digital dan web saat ini.

“Kalau swasta itu kan jelas seperti lingkaran setan; kalau ratingnya tinggi, maka iklannya akan banyak, kalau iklannya banyak maka akan mendatangkan uang banyak, dan kalau uangnya besar, maka akan kreatif untuk mengembangkan program-program TV,” katanya. (timyadi/win)