Friday, 18 October 2019

Ayah Model Ayam Kampung Anak Tiri jadi Medan Birahi

Senin, 13 Juni 2016 — 5:59 WIB
ibu-gila

AYAH tiri model ayam kampung makin banyak saja. Praptono, 45, ini contohnya. Melihat anak bawaan istri yang ABG, kok nafsu juga. Maka kelakuan Praptono benar-benar seperti jago ayam kampung. Emaknya mau, anaknya juga doyan. Ironisnya, ibu kandung Warsih, 17, ini membiarkan saja kelakuan bejad suami.

Tahukah Anda perilaku jago ayam kampung? Untuk menyalurkan libidonya dia tak pandang bulu, mana yang ada dulu. Ketemu babon, disikat juga. Tapi giliran butuh, dere (bakalan babon) yang sebetulnya keturunan sendiri, diembat juga. Ayam memang hanya punya naluri, tanpa budi pekerti dan tak mengenal agama ciptaaan Illahi. Sekarang ini semakin banyak lelaki model begini.

Salah satunya Praptono, warga Kertosono Kabupaten Nganjuk (Jatim). Sekitar 5 tahun lalu dia menikahi Ny. Jumiati, 40, janda kempling tetangga desa. Ketika itu anak bawaan istri, si Warsih, memang masih usia SD, sehingga penampilannya masih bocah, belum membangkitkan gairah. Dalam kondisi ini Praptono tampil sebagai ayah tiri yang mbapaki, asih dan asuh pada si anak tiri.

Tapi 5 tahun kemudian, Warsih yang dulunya imut-imut, kini bodinya sungguh amit-amit, seksi menggiurkan. Dia nampak cantik, perawakan seksi menggiurkan. Sekarang ini manakala melihat Warsih si bapak tiri ini mulai membayangkan yang mboten-mboten saja. “Tuh kan, ukuran celanamu jadi berubah,” ledek setan yang melihat perubahan sikap Praptono.

Namanya juga setan, dia tak sekedar meledek, tapi ingin mencelakakan sekalian bapak tiri yang celamitan ini. Kebetulan dia lagi nganggur, setelah sibuk di Senayan berminggu-minggu menemani DPR mengamandemen UU Pilkada untuk mempersulit cagub inkamben Ahok. Maka selepas gaweyan di Senayan, setan kurang kerjaan ini gantian mau ngerjai Praptono dari Kertosono.

Setan sangat mengendors tekad Praptono itu. Katanya, di era gombalisasi ini ayah tiri demen sama anak bawaan istri, merupakan sebuah keniscayaan. Sebab di mana-mana terjadi seperti itu, masif istilah kerennya. “Kamu ngerjain Warsih, aku yang ngerjain ibunya,” kata setan mulai berbagi tugas.

Kebetulan rumah Praptono lagi sepi, yang ada dia sendiri bersama anak tirinya itu. Maka mulailah ayah tiri mursal (tak tahu aturan) ini mulai merayu-rayu Warsih sekaligus mengancam. Kata si ayah tiri, jika Warsih menolak ajakan mesum, sekolahnya takkan dibiayai lagi. Mau minta biaya siapa? Di Jakarta memang ada Kartu Jakarta Pintar, tapi di Kertosono tak ada Kartu Nganjuk Pintar (KNP).

Takut ancaman maut ayah tiri, akhirnya Warsih pasrah. Tapi lain hari dia mengadu pada sang ibu. Apa reaksi Ny. Jumiati? Justru mendukung atau merestui kelakuan suami. Alasannya, ketimbang cari sasaran di luaran, mendingan yang ada di rumah sendiri saja. Mengapa dia berprinsip demikin, karena telah berhasil dikerjani setan.
Akhirnya ya sungguh tragis, hampir setiap hari Warsih dijadikan pelampiasan “ayam jago”: berkepala hitam ini.

Warsih mengaku capek baru setelah bulan puasa ini. Takut membatalkan puasa atas permintaan di siang hari, Warsih mengajak temannya mengadu ke polisi. Akhirnya Praptono dan Ny. Jumiati ditangkap polisi Polres Nganjuk, atas tuduhan persekongkolan jahat dalam tindak perkosaan.

Langsung daftarkan saja ke kebiri kimia, Pak. (JPNN/Gunarso TS)