Tuesday, 12 November 2019

Saat Presiden Jokowi Hapus Tradisi “Arisan” Jabatan Kapolri

Selasa, 28 Juni 2016 — 6:35 WIB
SENTILAN GUNARSO 280616

MESKI mengangkat Kapolri merupakan hak prerogratif presiden, selama ini presiden selalu nurut pada daftar Kompolnas dengan sistem “urut kacang”. Angkatan lebih tua punya peluang lebih besar. Rata-rata sudah mendekati masa pensiun, sehingga mereka tak sempat lama membenahi Polri. Di tangan Jokowi “tradisi arisan” itu dihapus. Ditunjuklah angkatan yang lebih muda, sehingga masa tugasnya bisa lebih panjang.

Uji kelayakan Komjen Tito Karnavian berjalan mulus di DPR. Kubu PDIP yang dikhawatirkan “tidak ridla”, ternyata welcome saja. Komisi III memuji bahwa pilihan Jokowi sangatlah tepat. Di samping jauh lebih muda, Komjen Tito merupakan bayangkara negara yang bersih dan diprediksi mampu membenahi lembaga kepolisian.

Kompolnas dan Wanjakti selama ini memang memilih calon Kapolri cenderung seperti tradisi “arisan”, angkatan yang lebih senior, selalu didulukan. Angkatan yang lebih muda belakangan, jika ada milik pada saatnya nanti akan jadi juga Kapolri dengan pangkat jendral polisi.

Mereka yang terpilih rata menjelang usia 56 tahun, sehingga masa tugasnya paling-paling 2-3 tahun. Dalam masa sesingkat itu Kapolri baru tak bisa leluasa bebenah di tubuh bayangkara, ditambah anggaran yang juga mepet. Ironisnya, meski sudah mepet, ketika pemerintah mengalami defisit anggaran, Polri tak luput dari pemotongan anggaran.

Selama ini presiden selalu nurut “tradisi arisan” oleh Wanjakti-Kompolnas. Tapi di era Jokowi, dia mencoba berbuat beda. Calon Kapolri yang disodorkan Wanjakti, sama sekali tak dilirik. Justru presiden memilih Komjen Tito Karnavian yang jauh lebih muda, bersih dan berprestasi. Bukan yang tak dipilih berarti tidak bersih, tapi “durasi” mereka jika memimpin Polri relatif pendek, karena mendekati usia pensiun.

Mereka yang selama ini jadi Kapoliri juga sosok yang baik dan punya prestasi. Tapi masa tugas mereka berkejaran waktu dengan masa pensiunnya yang hampir tiba. Karenanya seelok apapun program mereka, selalu terhenti di tengah jalan, karena harus diteruskan penggantinya, yang belum tentu satu ide dalam usaha pembenahan.

Sudah begitu banyak ide-ide yang dilontarkan Komjen Tito. Dengan usia 52 tahun dewasa ini, ada waktu 6 tahun untuk membenahi Polri. Di bawah kendalinya, semoga tak ada lagi pemeo polisi “rekening gendut” dan polisi yang doyan pungli. – gunarso ts