Friday, 13 December 2019

Huruf Pegon, Sarana Kreativitas Umat Islam di Jawa Masa Lalu

Jumat, 1 Juli 2016 — 14:35 WIB
Serat Ambiyo, berisi cerita-cerita Nabi, dituliskan dalam aksara pegon. (foto dari buku Illuminations)

Serat Ambiyo, berisi cerita-cerita Nabi, dituliskan dalam aksara pegon. (foto dari buku Illuminations)

JAKARTA (Pos Kota) – Huruf pegon adalah kreatifitas bangsa Jawa ketika menyerap dan menerapkan ajaran Islam. Pegon adalah huruf Arab yang digunakan untuk menuliskan kata-kata dalam bahasa Jawa. Penggunaan huruf pegon ini berkembang seiring masuknya Islam ke Jawa di abad ke-14.

Penggunaan huruf pegon ini, karena pada saat itu pengaruh Islam mulai merasuk di masyarakat Jawa, dan kebetulan keberaksaraan untuk menuliskan gagasan atau pengetahuan, dan juga imajinasi, masih dalam aksara Jawa. Maka, ketika suasana keislaman masuk, maka budaya aksara Arab ikut penetrasi untuk menuliskan baik yang berbahasa Arab maupun Jawa.

Ketika untuk menuliskan bahasa Jawa, maka menghadapai kenyataan, tidak semua aksara Arab bisa mewakili bunyi vokal dan konsonanan bahawa Jawa. Misalnya saja, tata tulis aksara Arab tidak ada bunyi e dan o, juga tidak ada bunyi dha, ga, ca, nya, tha, nga, pa. Di situlah kemudian dibuatlah semacam rekadaya, untuk bunyi ga, dilambangkan dengan aksara Arab Kaf diberi titik tiga di bawah, ca direkayasa dari aksara Jim, tapi diberi tiga titik di bawah.

Biasanya orang Jawa mengartikan huruf Pegon adalah huruf Arab  yang dimodifikasi untuk menuliskan bahasa Jawa. Konon berasal dari bahasa Jawa pégo yang berarti menyimpang. Sebab bahasa Jawa yang ditulis dalam huruf Arab dianggap sesuatu yang tidak lazim.

Huruf pegon selain untuk kegiatan keislaman di pusat-pusat Islam, seperti pesantren, juga melebar untuk menorehkan cerita-cerita dari Persia, dan Arab. Sebut saja yang sangat terkenal, misalnya untuk menulis karya Serat Ambiya, Serat Yusup, berbagai Serat Menak , Serat Amir Ambyah, cerita Imam Sujono, Asmarasupi.

Menurut buku Illuminations: The Writing Traditions of Indonesia, selain untuk menulis Alquran, buku-buku pelajaran agama Islam, juga untuk mistik Islam, adaptasi karya sastera cerita berasal dari Persia, Arab, atau Timur Tengah umumnya, (ditulis dalam bahasa Jawa), sejarah dan kenabian.

Dalam perkembangannya, ternyata huruf pegon, juga untuk menuliskan pengetahuan tentang Jawa, seperti primbon dan ilmu mistik, karya sastra asli Jawa yang sangat terkenal. Misalnya saja, Serat Anglingdarmo, Serat Mustoko Rancang, Seh Mardan,dan lainnya.

Lantas, dalam buku Literature of Java, oleh Th Pigeaud, disebutkan bahwa aksara pegon juga berkembang cerita yang muncul dan poluler di pantai utara Jawa, seperti Jaka Mursada, Jaka Prantaka, Jaka Nastapa, Jaka Salewah, dan lainnya.

Belakangan, kehidupan tulis-menulis masih hidup di pesantren-pesantren. Namun, sudah sedemikian mundur. Kita masih menemukan buku-buku dalam aksara pegon versi cetak, seperti dalam buku-buku khutbah dan pengetahuan agama.

Yang jelas, pegon telah pernah menjadi kehidupan intelektual masyarakat Islam di Jawa, dan juga perkembangan ilmu pengatahuan, dan juga dunia sastra. Kini, semua kegiatan dengan aksara pegon sudah semakin menghilang. Dengan begitu eksplorasi dunia Islam dan budaya Jawa dalam porsi dan sudut pandang seperti itu, telah menjauh dan kemungkinan segera menghilang.

Contoh naskah pegon di atas adalah Serat Ambiyo, pada bagian awal halaman buku yang cukup tebal tersebut dimulai dengan pupuh (bagian) dengan tembang Asmaradana (asmorondono). Satu bait awalnya sebagai berikut:

Pupuh Asmaradana

“Ingsun mimiti amuji,
anebut namaning Sukma,
Kang murah ing dunya mangke,
ingkang asih ing akherat,
kang pinuji tan pegat,
angganjar kawelas ayun,
angapura ingkang dosa.”

Terjemahan:
“Saya memulai dengan memuji,
Menyebut nama Tuhan,
Yang Maha Murah di dunia ini,
yang juga maha pengasih di akherat,
Yang selalu dipuji tanpa putus-putusnya,
Memberikan ganjaran dengan kasih,
dan memberi ampunan kepada yang berdosa.”
(win)