Thursday, 21 November 2019

Memeras, Korupsi dan Suap, 36 Jaksa Terima Sanksi Berat

Selasa, 2 Agustus 2016 — 20:34 WIB
Ketua hakim agung. Jasman Pandjaitan (ahi)

Ketua hakim agung. Jasman Pandjaitan (ahi)

JAKARTA (Pos Kota) – Kejaksaan Agung telah menjatuhkan sanksi berat kepada 36 orang jaksa dan pegawai tata usaha, selama kurun waktu Januari – Juli 2016. Mereka melanggar kode etik jaksa, seperti menerima suap, korupsi, memeras saat mabok.

“Mereka terbukti melanggar kode etik dan pedoman perilaku jaksa. Mereka dikenakan sanksi sesuai PP No. 53/2010,” kata Sekretaris Jaksa Agung Muda Pengawasan (Sesjamwas) M. Jasman Pandjaitan saat ditemui, di Gedung Bundar, Kejagung, Selasa (2/8) sore.

Menurut Jasman, dari 36 orang jaksa dan tata usaha yang dikenakan sanksi berat, dua diantaranya dipecat secara tidak hormat dan tiga lainnya diberhentikan dengan hormat.

“Sedangkan, pemberhantian sementara lima orang, penurunan pangkat (14) , demosi (pemindahan ke bagian lain) satu, pembebasan jaksa fungsional empat dan pembebasan dari strukrural tujuh orang,” ujarnya.

Jasman menambahkan pihaknya juga telah memberikan sanksi sedang kepada 44 jaksa dan tata usaha. Serta saksi ringan sebanyak 26 orang. “Total jaksa dan tata usaha yang dikenakan sanksi sebanyak 63 orang. Yang tidak terbukti (melanggar kode etik jaksa)  168 orang. Masih dalam proses pemeriksaan sebanyak 69 orang,” tegasnya.

Memeras Saat Mabuk

Jasman mengungkapkan pelanggaran yang dilakukan, adalah 30 orang terkait indispliner, lalu 40 orang penyalahgunaan wewenang,  perbuatan tercela lain 17 dan Perdata satu orang. “Bentuk pelanggaran, panitia lelang tidak  melakukan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Kejaksaan Tinggi Sulsel,” ujarnya.

Pelanggaran lain, lanjut Jasman, menjadi perantara kasus, mengeluarkan tahanan, korupsi uang operasional penanganan kasus sebesar Rp944 juta Kejati Bali. “Ada juga yang memeras, karena saati itu mabok. Menerima suap 50 juta di Kejati Kalteng, Menerima uang 25 juta di Nabire, Papua. Menerima uang 10 juta di Kajati jatim,” Jasman menandaskan.  (ahi/win)