Wednesday, 20 November 2019

Pasca Lebaran, Istri Lebih Banyak Gugat Cerai

Senin, 15 Agustus 2016 — 14:53 WIB
ilustrasi

ilustrasi

BEKASI (Pos Kota) – Pasca lebaran tahun 2016 kasus perceraian pasangan suami istri di Pengadilan Agama (PA) Cikarang, marak. Dan yang lebih meningkat lagi, pihak yang mengajukan gugatan adalah sang istri. Ada ratusan istri ramai-ramai gugat cerai suaminya di PA Cikarang, dengan materi gugatan bermacam-macam.

“Sampai dengan Juni 2016 saja, sudah masuk perkara perkawinan sebanyak 1.038 perkara,” ujar Nemin Aminudin, Ketua PA Cikarang, sambil mengatakan malah yang lebih banyak mengajukan gugatan istri mencapai 651 gugatan dan suami hanya 387 gugatan.

Kecamatan yang paling banyak warganya mengajukan gugatan cerai adalah Tambun Selatan, Selain penduduknya padat, juga SDM mereka lebih bagus katimbang kecamatan lain.

“Siapa yang mau dibohongin terus, meski sudah punya anak, saya mampu ngebiayain sendirian tanpa suami,” cetus Maesaroh, 25, wanita yang mengajukan gugat cerai (GC) ke PA Cikarang. Warga Mekarsari, Tambun Selatan, mengaku disakiti suami karena menelantarkannya, “Dikiran saya nggak berani ngurus cere,” ujarnya meledak-ledak, saat konsultasi di Pos Bantuan Hukum (Posbakum) PA Cikarang.

Sementara Reni Heryani, 30, warga Mangunjaya, Tambun Selatan, terpaksa menggugat cerai suaminya karena sang suami tidak memberi nafkah lahir, ‘Dia nganggur dan sudah berkali-kali disuruh kerja, malah hobinya main,” kata Reni, yang sudah punya anak satu ini.

Sementara itu Data itu tercatat di Lembaga Konsultan Bantuan Hukum (LKBH) Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Kota Bekasi.

Selain masalah ekonomi, orang ketiga dan juga masing-masing pihak mengaku menjaga harga dirinya. Bahkan tak jarang pula pasangan yang bercerai karena selingkuh. “Banyak faktor yang menyebabkan wanita lebih agresif mengurus perceraian,” ujar Abdul Chalim Sobri, salah satu pengacara di LKBH ICMI Bekasi.

Fenomena istri lebih banyak menggugat ini karena ada perasaan ego dan nafsu semata dalam berumah tangga dan biasanya karena istri yang terlalu banyak menuntut sedangkan kemampuan suami tidak ada.

Chalim mengimbau pernikahan dilakukan atas dasar agama dan cinta, sehingga tidak terjadi perceraian. Petugas di Kantor Urusan Agama diminta memberikan bekal ketika ada pasangan yang menikah. “Yang bisa mengerem angka perceraian adalah agama yang benar,” katanya.
(saban/sir)