Friday, 22 November 2019

Eddy Silitonga Juga Kondang Sebagai Pelantun Lagu-lagu Pop Jawa

Kamis, 25 Agustus 2016 — 11:05 WIB
Eddy Silotonga (ist)

Eddy Silotonga (ist)

JAKARTA (Pos Kota) – Penyanyi senior Eddy Silitonga dikabarkan meninggal dunia. Kabar itu ternyata juga mengagetkan masyarakat Jawa, sebab penyanyi berdarah Batak itu juga diakrabi orang Jawa, mengingat dia pelantun lagu-lagu pop Jawa, misalnya dengan hits ‘Romo Ono Maling’.

Sepanjang karirnya, Eddy Silitonga memang bukan hanya top dengan lagu-lagu pop Batak dan Indonesia, seperti yang bertajuk ‘Mama’, tetapi juga lagu Minang, dan Jawa.

Untuk lagu-lagu Jawa, Eddy Silitonga memiliki album tersendiri,  misalnya pada tahun 1977 dia menelorkan album ‘Ngalamar Dadi Kasir’ yang di dalamnya terdapat 14 lagu berbahasa Jawa.

Album yang dirilis Purnama Record ini pada Side A ada 7 lagu, yakni : Nglamar Dadi Kasir, Jare Sopo,  Nasibku Malam Minggu,  Yake-Yake Wae, Cindelaras,  Paramaribo, Nggo Kowe. (Ejaan yang digunakan di sini bukan baku untuk penulisan bahasa Jawa)

Sedangkan di Side B  juga ada 7  lagu, yakni sebagai berikut :  Pak Cilik, Manuk Podang,  Gawe Gelo,  Ojo Ngiro,  Kaya Ngene Rasane Rasane,  Alam Ndunya Werna-Werna, Pak Rono.

Menariknya, Eddy Silitonga juga punya lagu bertajuk Sri, namun lagu ini sangat berbeda dengan judul lagu Sri milik Sony Joss. Baik lirik, irama, dan musiknya ternyata jauh berbeda. Kesamaannya adalah, keduanya mengisahkan tokoh wanita yang dipuja.

Di lain album, Eddy Silitonga membuat hits antara lain lagu, antara lain: Koyo Ketiban Mbulan, Romo Ono Maling, Mbak Ayu Retno, Sri, Nggo Kowe, Ben Aku sing Sengsoro, Tega Temen, Pengiling.

Menariknya lagi, kalau disimak, ternyata ada nuansa tersendiri dalam lagu-lagu Eddy dalam jenis pop Jawa ini, misalnya dalam hal musik pada beberapa lagu sangat kental irama dan tarikan lantunan ala Batak. Untuk lagu-lagu irama ceria, seperti Romo Ono Maling, Pak Tukimo.

Lagu Sri dan Ben Aku Sing Sengsoro, misalnya, sangat terasa nuansa musik dan tarikan lantunan ala penyanyi Batak. Namun demikian, ini juga tak mengurangi keindahan lagu ini.

Dan di sini pula kita merasakan, betapa banyak perbedaan antara lagu-lagu bernuansa daerah, satu sama lain saling berbeda. Di sini pula Eddy Silitonga menyuguhkan hal lain dan estetika gabungan dua budaya yang kiranya pantas dilanjutkan oleh generasi penyanyi insan musik penerus.

Untuk lagu Romo Ono Maling, sudah sangat akrab di telinga masyarkat Jawa, misalnya di awalnya: Mo, mo, mo, mo/ Romo, ono maling/ Tulungono anakmu lagi kelangan/ Mo, mo, mo, mo, Romo, ono maling/ Rino wengi kelap kelip ra karuan…./

Lagu ini sebenarnya bukan bicara maling yang sebenarnya, tapi maling yang mencuri hati seseorang, terbukti dalam salah satu baiknya disebut : Tobat Romo, malinge niku edi peni (Tobat oh ayah, malingnya sangat cantik).

Lalu ada sautan dari Romo (ayah)  yang dibawa apa, dijawab Niki sing ten njero niki (ini yang di dalam ini). Ing njero ngendi? Niki lo ten njero dada/ Ati kulo sing digowo lungo? (yang di dalam mana? Dijawab: ini lho yang di dalam dada/ hatiku yang dibawa pergi…//

Berikut ini dikutipkan lirik lagu yang dilantunkan Eddy Silitonga yang bertajuk Sri, pecinta lagu-lagu Jawa bisa merasakan perbedaan liriknya kalau disandingkan dengan lagu Sri yang dinyanyikan Sony Joss.

Sri

Sri opo salahku, opo dosaku
Kowe ninggal aku..
Sri pikiren meneh, opo tindakmu
Dudu dalan kleru..

Sri endah emane,
Olehmu gampang percoyo liyan..
Oh.. Sri, coba gagasen.
Sepisan meneh mengko dadine..

Sri durung kebacut,
Yen kowe gelem ngrungokke kandhaku..
Sri keduwung mburi,
Tan ono guno Lan anyilakani..

Sri endah emane,
Olehmu gampang percoyo liyan..
Oh.. Sri, coba gagasen
Sepisan meneh mengko dadine..

Sri durung kebacut,
Yen kowe gelem ngrungokke kandhaku..
Sri keduwung mburi,
Tan ono guno lan anyilakani..
Sri keduwung mburi,
Tan ono guno lan anyilakani. // (*/win)