Wednesday, 11 December 2019

Enak Dong, Kalau Punya Doku

Jumat, 16 September 2016 — 6:00 WIB
pemulung

MAU di rumah seharian? Dan mengerjakan pekerjaan rumah atau kantor. Boleh-boleh saja. Atau mau bermalas-malasan saja, nonton TV, bertelepon ria, ber-BBM, ber-WA, ber-SMS atau apalah, ngelamun, misalnya?

Kalau lapar? Ah nggak usah khawatir, walapun tidak masak, makanan banyak dijual orang. Tinggal pilih, masakan warteg, Padang, soto Betawi, bakso tenis, sayur asem, ikan asin, apalagi?

Eh, tapi malas ke luar, ya? Kan ada yang namanya pesan antar, tinggal putar nomor telepon sekian-sekian? Nah, nggak lama juga bakalan datang makanan kesukaan?

Malah sekarang ini ada yang nggak usah pesan, tapi para penjaja makanan sudah sampai ke depan pintu rumah kita. Roti, tahu, tempe, gudeg, nasi pecel. Bukan saja diasongkan pakai pikulan, gerobak dorong tapi sudah pakai mobil. Malah dengan lagu yang menarik. Bukan sekadar meneriakkan nama makanannya, tapi disenandungkan.

Kalau sebelumnya, orang jualan tahu dipikul atau pakai sepeda, dan motor, lalu si penjaja berteriak; ” Tahu!,Tahu!, Tahu!

Tapi, sekarang pakai lagu, dengan nada riang.” Tahu, tahu bulat, dimasaknya sekarang, satu lima ratus, kalau dua seribu…..” begitu syairnya.

Dan pembeli pun langsung merubung mobil bak terbuka yang dibentuk sedemikian rupa, lengkap dengan kompor dan penggorengan. Si penjual langsung menggoreng di situ; sreng, sreng, sreng! Enak? Enak dong, jos, jos!

Enak memang, tapi untuk semua keenakan tadi harus punya duit atau doku? Ini masalahnya! Yah, memang sudah begitu seharusnya? Manusia harus berusaha mencari rezeki, apa saja. Seperti jualan tahu, misalnya?

Nah, yang penting jangan menipu, korupsi, maling, merampok, dll kejahatan? Duitnya enak, tapi yang nggak enak ketika tertangkap massa, digebuki sampai babak belur, baru dijebloskan ke penjara. Emang enak? – massoes