Friday, 13 December 2019

Nggak ke Mana-mana, Tapi..?

Sabtu, 24 September 2016 — 6:15 WIB
mencna

“ SEKARANG Bapak mau kemana? Apa mau ikut partai Anu atau..?”

“ Saya tidak ikut kemana-mana. Tapi, percayalah saya ada di mana-mana!”

“ O, gitu? Tapi…”

“ Nggak ada tapi-tapian. Yang jelas, saya akan berjuang untuk rakyat. Kalau partai tidak memilih saya, ya nggak apa-apa. Percayalah Bung. Untuk berjuang masih banyak jalan menuju Roma!” ujar Bang Jalil, ketika siang itu berbicara melalui HP-nya dengan seseorang yang entah ada di mana.

Bang Jalil memang merasa kecewa. Karena sebelumnya sudah digadang-gadang, bakalan menjadi calon pimpinan daerah dalam pilkada mendatang. Tapi ketika dia sudah menyatakan siap, ternyata nggak dipilih oleh partainya.Partai lebih suka mengusung calon yang lain.

“ Itulah politik, Pak. Jangan disesali. Bapak kan sudah paham sendiri, dan pernah mengatakan bahwa politik itu bukan hitam putih. Politik itu bisa seperti lagu balonku, rupa rupa warnanya!” ujar sang istri sambil menyodorkan kopi hangat.

“ Pagi tempe, sore kedele. Mencla mencle!” kata Bang Jalil, sambil menyeruput kopi.

“ Makanya Bapak kan sudah tahu. Sudah mengerti resiko kalau masuk partai. Sudah biasa tuh, dipilh nggak diplih oleh pimpinan partai. Dan setelah itu angota boleh ngambek, dan hengkang ke partai lain!” kata sang istri.

“ Itu kutu loncat!” timpal Bang Jalil.

“ Eh, ngomong Bapak mau loncat kemana, maksudnya partai mana?” tanya sang istri serius.

“ Bapak nggak kemana-mana. Tapi, percayalah ada di mana-mana!” ujar Bang Jalil, mengulang kalimat yang paling dia hapal.

“ Ya, jangan lupa juga, uang belanja Ibu jangan sampai kemana-mana!” ujar sang istri, membungkam Bang Jalil. -massoes