Tuesday, 10 December 2019

Pabrik Kosmetik Abal-abal di Tangerang Digerebek

Rabu, 5 Oktober 2016 — 20:21 WIB
Kapolresta Tangerang Kombes Asep Edi bersama Kepala BPOM Banten Kashuri menunjukan barang bukti cream pemutih ilegal

Kapolresta Tangerang Kombes Asep Edi bersama Kepala BPOM Banten Kashuri menunjukan barang bukti cream pemutih ilegal

TANGERANG (Pos Kota) – Polres Kota Tangerang menggerebek pabrik kosmetik ilegal di Kampung Telaga Sari, Sindang Jaya, Kabupaten Tangerang. Hasilnya, ribuan cream pemutih kulit berbahaya disita dari rumah mewah berlantai dua tersebut.

Dalam penggerebekan bersama BPOM Banten itu polisi mengamankan sejumlah karyawan. Pengelola pabrik rumahan tersebut meloloskan diri. Polisi mengaku akan memburunya.

“Pengelola usaha sudah kami tetapkan sebagai DPO (Daftar Pencarian Orang-red). Identitasnya sudah kami kantongi, sedang kita buru,” kata Kapolresta Tangerang, Kombes Asep Edi, Rabu (5/10/2016).

Kapolres menjelaskan, ‎pemilik pabrik rumahan ini terbukti melanggar tindak pidana kefarmasian. Selain tidak didampingi ahli kesehatan kulit, karyawan yang dipekerjakan tak memiliki pengelaman dibidangnya. “Pemilik usaha terancamPasal 197 tentang kesehatan dengan ancamannya 12 tahun penjara,”ungkapnya.

Pabrik rumahan tak berizin di wilayahnya itu diketahui sudah memproduksi kosmetik ilegal sejak dua minggu lalu. Sebanyak 10 karyawan setiap harinya memproduksi cream pemutih kulit berbahaya bagi kulit.

Barang bukti yang disita sebanyak 22 jenis cream pemutih, diantaranya 47 dus ever white, 24 plastik cream sebagai bahan pembuatan, 15 diregen cairan kimia, 3140 cup cream pemutih serta 625 botol cairan pemutih wajah.

“Produk ilegal ini bila digunakan dapat menyebabkan iritasi, kemerahan pada kulit, dan jika tidak menggunakannya dalam tiga hari kulit menjadi hitam,” terangnya didampingi Kepala BPOM Banten, Kashuri.‎
‎‎‎‎
Polisi mengungkap adanya pabrik kosmetik ilegal ini atas laporan warga dan BPOM Banten. Setelah diselidiki bahwa memang di rumah produksi tersebut melakukan pembuatan kosmetik yang dapat membahayakan si pemakainya.

“Ini murni tindak kejahatan. Daya beli masyarakat terganggu di jaman seperti ini, sehingga memilih produk yang murah,”ujarnya sembari meminta masyarakat tidak tertipu soal harga murah dan teliti dalam memilih produk. (imam)