Friday, 18 October 2019

Boleh Saja Memarahi Suami Tapi Jangan Melotot Dong!

Sabtu, 15 Oktober 2016 — 6:27 WIB
digeruduk

YANG namanya melotot, baik pada ulama maupun suami, hukumnya sama-sama haram. Karenanya Partogi, 32, naik pitam ketika dimarahi dan dipelototi istri. Ny. Siska, 28, langsung dihajar. Padahal melototnya istri itu karena marah. Coba, di kala anak sedang sakit, eh suami malah kelonan sama janda!

Mata melotot minggu-minggu ini menjadi hal sensitif. Sampai ada ustadz nangis karena melihat anak muda melotot saat adu argumentasi dengan ulama. Padahal di dunia perwayangan, mata melotot itu mah biasa. Lihat tuh wayang golongan Kurawa atau ratu sabrangan, banyak yang dibikin dengan mata melotot (pleleng – Red). Maka karena dari sononya sudah begitu, ketemu dewa di kahyangan pun mereka tetap saja melotoooot!

Ny. Siska warga Kecamatan Kota Baru, Jambi, sebetulnya orangnya tak suka melotot. Sebab melotot terlalu lama juga pedes di mata. Tapi ketika melihat ketidak adilan di depan mata, terpaksalah sekali-sekali memelototkan mata sambil cincing-cincing rok. Tapi hasilnya, malah dia babak belur dihajar suami. Ooh oh, sakitnya sampai di sini.

Semua ini sebetulnya berpangkal pada kelakuan Partogi, yang khas jadi karakter manusia Indonesia. Ketika rejeki sedang membaik, atau “bisa ngliwet kenthel” kata orang Jawa, mulai deh gagasannya macem-macem. Pengin berinvestasi. Tapi bukan usaha dagang, melainkan investasi bidang peuyem. Peuyem tapai Bandung itu? Bukan, peuyem….puan cantik!

Belakangan Partogi memang sedang punya gebedan baru, namanya Dewi, 26, janda muda yang penampilannya sekel nan cemekel. Punya WIL itu memang termasuk proyek padat modal, karena biasanya si cewek minta ini itu, apa lagi jika yang mata duitan dan punya prinsip: ada bonggol mesti ada benggol. Kalau hanya bonggol doang, banyak temannya.

Meski Dewi suka minta ini itu, karena rejeki Partogi sedang naik daun, nggak masalah. Dia malah dikontrakkan di rumah kos-kosan sekaligus menjadi tempat pangkalan Partogi manakala mau tune up dan sporing balansing. Jika sedang mangkal di kos-kosan Jalan Pangeran Hidayat ini, Partogi bisa lupa waktu. Bila Mendikbud punya program full day school, suami Siska ini punya agenda: full day cheating.

Tapi rupanya jika sudah mangkal di Jalan Pangeran Hidayat, Partogi jadi lupa segalanya. Bagaiamana tidak, tahu anak di rumah sakit, dia malah enak-enak kelonan dengan si janda muda. Di telpon istri katanya sedang lembur di kantor. Padahal aslinya, Partogi lembur dalam artian: lempengin burung!

Kemudian ada teman sekantor suami yang memberitahukan bahwa Partogi memang sedang punya WIL, lengkap dengan domisinya segala. Nah, dengan informasi itu langsung saja Siska melabraknya. Ternyata memang benar. Ketika dia menyusul ke rumah kos-kosan, suaminya sedang asyik kelonan dengan si janda muda. ”Enak kau ya. Anakmu lagi sakit, kau berduaan sama selingkuhanmu,” omel Siska sambil mata melotot dan menuding-nuding muka.

Ironisnya Partogi tak merasa bersalah, justru semakin jumawa. Meski dia bukan ulama, dipelototi istri dia jadi naik pitam. Langsung saja Siska dihajar hingga babak belur, lalu ditinggal pergi begitu saja bersama WIL-nya. Kakak Siska tentu saja tak terima, sehingga Partogi diadukan ke polisi. Dua minggu kemudian baru bisa ditangkap.

Mata melotot versus lelaki terlalu hot. (JPNN/Gunarso TS)