Monday, 09 December 2019

Sakit Jantung Bawaan, 9 Persen Bayi Meninggal di Bulan Pertama

Sabtu, 15 Oktober 2016 — 15:10 WIB
Prof Ganesja dan dr Maizul Anwar dari SHI. (ist)

Prof Ganesja dan dr Maizul Anwar dari SHI. (ist)

JAKARTA (Pos Kota)- Sekitar 9 persen bayi meninggal pada bulan pertama setelah lahir akibat penyakit jantung bawaan. Dari prosentase tersebut hanya separuhnya yang terdeteksi sejak awal sehingga penanganannya lebih cepat dilakukan.

“Sisanya tidak terdeteksi. Pada akhirnya meninggal diusia yang belum genap sebulan,” kata Prof dr Ganesja H Harimurti, SpJP(K), spesialis jantung anak Siloam Heart Institut (SHI).

Penyakit jantung bawaan itu sendiri merupakan kelainan pada struktur atau fungsi sirkulasi jantung yang terjadi akibat adanya gangguan atau kegagalan perkembangan strktur jantung pada fase awal perkembangan janin. Itu sebabnya pemeriksaan kehamilan harus dilakukan sejak awal usia kandungan agar perkembangan organ tubuh bayi bisa diketahui.

Ganesja mengakui penanganan kasus kelainan jantung bawaan tidak bisa disamakan dengan penyakit jantung lainnya. Pasien harus ditindaklanjuti di dalam klinik khusus dengan tim dokter multidisplin yang mampu menangisipasi berbagai masalah secara khusus pada masing-masing pasien.

Kasus kelainan jantung bawaan yang pernah ditangani oleh SHI diakui Prof Ganesja cukup banyak. Sejak 2012 hingga Agustus 2016 sudah 34 pasien diintervensi dan 51 pasien dioperasi.

“Prinsipnya penanganan kelainan jantung bawaan masing-masing individu tidak sama. Ada yang sifatnya sederhana sehingga cukup intervensi, tetapi ada juga yang kasusnya sangat kompleks sehingga membutuhkan operasi,” tandas dr Maizul Anwar, SpBTKV, chairman SHI.

Ia mengakui kelainan jantung bawaan hanya sebagian kecil dari kasus penyakit jantung di Indonesia. Tetapi seiring kemajuan jaman, jumlah kasus penyakit jantung terus meningkat dari tahun ke tahun. (faisal)