Wednesday, 20 November 2019

Meriahnya Peringatan Hari Santri

Sabtu, 22 Oktober 2016 — 22:20 WIB
Kirab Resolusi Jihad memperingati Hari Santri Nasional di Subang.(dadan)

Kirab Resolusi Jihad memperingati Hari Santri Nasional di Subang.(dadan)

SUBANG (Pos Kota) – Sejumlah daerah di Jawa Barat, memperingati Hari Santri Nasional yang diperingati saban 22 Oktober.

Di Subang, Jawa Barat, Hari Santri diperingati di pelataran Wisma Karya, Sabtu (22/10), dihadiri Plt Bupati Subang Hj Imas Aryumningsih, Kapolres Subang AKBP Yudhi S Wahid, Ketua MUI Subang, Kepala Kantor Kemenag Subang, Ketua PCNU Tanfiziah Subang, Ketua MDI, Ketua Baznas, para pimpinan ponpes serta santriwan santriwati.

Sebelum acara Hari Santri Nasional yang ke-2 dimulai, santriwan-santriwati dari seluruh ponpes yang ada di Subang terlebih daluhu melaksanakan kirab atau pawai resolusi jihad yang dimulai dari depan Masjid Agung Subang menuju Wisma Karya.

Plt Bupati Subang H Imas Aryumningsih menyambut gembira atas ditetapkannya tanggal 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional.

Menurut Imas, hari santri merupakan kebijakan yang penting dan strategis dalam pembangunan pendidikan masyarakat. Pendidikan melalui pesantren adalah pendidikan asli Indonesia.

“Oleh kerena itu, hari santri harus dijadikan momentum bagi para santri untuk meningkatkan kiprahnya dalam proses pembangunan bangsa,” tegasnya.

Di Purwakarta, Jawa Barat, Hari Santri Nasional dipusatkan di Taman Pasanggrahan Pajajaran dihadiri Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi, Ketua MUI Purwakarts KH Abun Bunyamin, para pimpinan ponpes serta ratusan santri.

Bupati Dedi mencanangkan kewajiban penggunan kain sarung dan peci hitam bagi pelajar dan pegawai di Pemkab Purwakarta setiap Hari Jumat.

Menurut Dedi, sarung merupakan identitas keislaman nusantara sehingga penggunaan sarung dinilai akan membangkitkan suasana pesantren dan nilai-nilai santri di kalangan para pelajar dan pegawai pemerintahan.

“Sarungan itu khas Indonesia, khas nusantara, di Sunda ada istilah samping atau sinjang untuk sarung, di Jawa mungkin istilahnya berbeda, begitu pun Makasar, Bali dan Kalimantan. Semua memiliki kekhasannya tersendiri. Kesamaannya satu, tetap sarungan. Maka sarung dalam hal ini merupakan simbol persatuan bangsa,” jelasnya.(dadan)