Thursday, 14 November 2019

Limbah Baterai Sepeda Motor Listrik Harus Diwaspadai

Kamis, 27 Oktober 2016 — 7:19 WIB
Sepeda motor listrik (ist)

Sepeda motor listrik (ist)

SISTEM pengelolaan limbah baterai sepeda motor listrik, harus menjadi pertimbangan pemerintah sebelum sepeda motor listrik dipasarkan secara masal.

Ketua Umum Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI) Gunadi Sindhuwinata menjelaskan, sepeda motor listrik membutuhkan infrastruktur pengelolaan limbah dan
aturan keselamatan.

“Ada beberapa hal yang harus menjadi pertimbangan pemerintah sebelum sepeda motor listrik dipasarkan secara masal. Salah satu permasalahan besar dari produksi sepeda motor listrik adalah sistem pengelolaan limbah baterai,” jelas Gunadi.

Baterai sepeda motor listrik, lanjutnya, harus diganti secara periodik dan berpotensi membuat limbah logam lithium menumpuk.

“Misalnya seperempat sepeda motor yang dipasarkan adalah sepeda motor listrik. Setiap tahun harus ganti baterai. Baterainya dibuang ke mana?” Katanya usai bertemu Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Selasa (25/10).

Persoalan lain, lanjutnya, adalah faktor keselamatan. Dia mengatakan keputusan pemerintah China mengadopsi sepeda motor listrik justru membuat angka kecelakaan meningkat antara lain karena sepeda motor listrik tidak bersuara.

Dia menambahkan pemerintah juga harus mengkaji perbandingan efisiensi dan konsumsi antara energi mesin bertenaga listrik dan mesin bensin pada sepeda motor.

“Pertama, produknya masih mahal. Kedua, energi yang dihabiskan untuk membangkitkan listrik itu besar. Bayangkan dari 30.000 KV menjadi 220 Volt. Harus diperhitungkan mana yang lebih murah,” kata Gunadi.

Industri sepeda motor nasional mampu memproduksi sepeda motor listrik dalam 2- 3 tahun ke depan.

PRODUSEN SIAP

Gunadi Sindhuwinata mengklaim semua produsen sepeda motor di Indonesia mempunyai kapasitas dan teknologi untuk menghasilkan produk sepeda motor listrik.

Produsen sepeda motor nasional bahkan mampu memproduksi sepeda motor listrik dalam jangka waktu 2 – 3 tahun ke depan. Namun, kemampuan dan penguasaan teknologi bukan satu-satunya pertimbangan industri memproduksi sepeda motor listirk.

“Kami saat ini hanya memproduksi yang biasa, pengembangannya juga masih berjalan. Listrik juga tetap dipersiapkan. Kami tinggal mengadopsi saja,” kata Gunadi.

Dia menjelaskan, produsen sepeda motor juga harus mempertimbangkan teknologi dan fitur yang saat ini sudah tersedia pada sepeda motor bermesin bensin. “Sambil standar dipersiapkan, pengembangan terus berjalan. Kami ingin ada keunggulan pada sepeda
motor listrik yang diproduksi,” kata Gunadi.

Direktur Industri Permesinan dan Alat Mesin Pertanian, Kementerian Perindustrian, Arus Gunawan mengatakan, pengembangan sepeda motor listrik adalah salah satu topik diskusi utama antara Menperin dengan pengurus AISI.

Menurutnya, Menperin mendorong produsen sepeda motor agar serius mengembangkan sepeda motor listrik untuk mengurangi konsumsi BBM dan polusi kendaraan bermotor sambil meningkatkan penguasaan teknologi industri dalam negeri.

“Produsen juga menyampaikan beberapa angka soal perkembangan produksi. Angkanya masih cukup bagus sampai saat ini,” ujar Arus. (tri)