Tuesday, 12 November 2019

Menperin: Pembangunan Industri Diarahkan ke Luar Jawa

Jumat, 28 Oktober 2016 — 9:14 WIB
menperin 1

JAKARTA (Pos Kota) – Arah kebijakan pembangunan industri nasional telah ditentukan sesuai Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019.

“Pembangunan industri diarahkan pada pengembangan perwilayahan industri di luar pulau Jawa, penumbuhan populasi industri, serta peningkatan daya saing dan produktivitas. Ini juga untuk mendorong terwujudnya tiga poin pengembangan industri nasional pada agenda Nawacita tersebut,” tegas Airlangga.

Dalam upaya pengembangan perwilayahan industri di luar pulau Jawa, Kementerian Perindustrian telah memfasilitasi pembangunan kawasan industri. “Salah satu strategi mempercepat penyebaran dan pemerataan pembangunan industri adalah melalui pembangunan kawasan industri. Hal ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo untuk mewujudkan Indonesia sentris,” ujarnya.

Hingga tahun 2016, sebanyak 73 kawasan industri telah dibangun di Indonesia. Beberapa kawasan yang saat ini memiliki progres signifikan dalam pembangunannya, antara lain Kawasan Industri Sei Mangke di Sumatera Utara yang difokuskan pada pengembangan oleo chemical, Kawasan Industri Dumai di Riau dan Kawasan Industri Berau di Kalimantan Timur yang dibangun menjadi Palm Oil Green Economic Zone (POGEZ), serta Kawasan Industri Palu di Sulawesi Tengah untuk pengembangan industri minyak atsiri.

Selanjutnya, Kawasan Industri Kendal di Jawa Tengah menjadi pusat industri ringan (light industry), Kawasan Industri Java Integrated Industrial Ports and Estate (JIIPE) di Gresik, Jawa Timur menjadi pusat industri berat (heavy industry), dan Kawasan Industri Morowali di Sulawesi Tengah menjadi pengembangan industri feronikel.

Selain itu, beberapa industri yang tengah dalam proses penyelesaian pembangunan, di antaranya pabrik pulp and paper di Ogan Komering Ilir, Sumatera Selatan, pabrik smelter alumina di Ketapang, Kalimantan Barat, pabrik gula di Dompu, Nusa Tenggara Barat, serta pabrik semen di Manokwari, Papua Barat.

Menperin juga mengungkapkan, industri pengolahan non migas mengalami pertumbuhan sebesar 4,61 persen pada triwulan II tahun 2016 atau lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sekitar 4,47 persen. Sedangkan, nilai tambah bruto yang dibukukan industri pengolahan non migas pada triwulan II-2016 sebesar Rp. 565,90 triliun atau 18,33 persen dari PDB.

“Hal ini kembali mengukuhkan sektor Industri Pengolahan Non Migas sebagai penyumbang nilai tambah terbesar terhadap PDB,” jelas Airlangga.

Jika digabung dengan triwulan sebelumnya, nilai tambah bruto Industri Pengolahan Non Migas selama Januari-Juni 2016 mencapai Rp. 1.108,81 triliun atau lebih tinggi dibandingkan Januari-Juni 2015 sebesar Rp. 919,95 triliun.

Tiga sub sektor penyumbang nilai tambah bruto terbesar pada triwulan II-2016 adalah Industri Makanan dan Minuman sebesar Rp. 188,23 triliun atau 6,10 persen terhadap PDB, Industri Alat Angkutan sebesar Rp. 59,38 triliun atau 1,92 persen terhadap PDB, dan Industri Barang Logam, Komputer, Barang Elektronik, Optik, dan Peralatan Listrik sebesar Rp. 59,36 triliun atau 1,92 persen terhadap PDB.

(tri/sir)