Thursday, 12 December 2019

Aku Nggak Mau Serakah!

Rabu, 23 November 2016 — 6:15 WIB
koruptor

SEORANG anak begitu dendam pada sang ayah. Kenapa? Ya, pasti ada sebabnya. Dia, si anak ini pernah melihat ibunya dibentak-bentak oleh ayah. “ Ibu waktu itu minta uang belanja, tapi bukan dikasih malah mendapat dampratan,” ujarnya dengan tersendat.

Mengapa si ayah sebegitu tega memarahi ibunya? Ya, ini juga ada penyebabnya. Si ayah, kata si anak, uangnya habis untuk memenuhi kebutuhan nafsunya. Ia ternyata punya istri di mana-mana.

Bukannya nggak setuju soal lelaki beristri lebih dari satu, yang penting kan adil? Terutama pada istri pertama. Tapi, yang dilakukan sang ayah di luar batas kemanusiaan. Ayahnya jarang pulang ke rumah sampai berbulan-bulan , karena selalu saja berburu wanita. Sekalinya pulang dia hanya membawa marah.

“ Dari situlah saya dendam pada ayah,” katanya mengenang.

Dia bukannya nggak tahu dosa, kalau melawan orang tua. “Tau, saya tau. Tapi ini memang sudah sangat keterlaluan, saya nggak tega kalau ibu saya menderita!”
Ini kisah nyata. Kepada orang tua, memang sebagai anak tidak boleh melawan, apalagi sampai dendam.

“Ya, sekarang saya nggak dendam lagi, karena bapak sudah meninggal. Dan saya juga sering kirim doa, minta maaf,” ujarnya lirih.

Ini memang seperti buah si malakama. Jika dimakan ibu mati, nggak dimakan bapak mati. Dia marah pada ayah kena doas, tapi nggak tega melihat ibu yang tersakiti.

Ini nasihat buat siapa saja. Bahwa orang memang tak ada puasnya. Wajar, karena katanya manusia memang begitu adanya. Seperti contoh di atas, sudah punya istri satu, mau dua, tiga dan seterusnya.

Begitu juga dalam hal mencari uang. Banyak orang, pegawai atau pejabat yang bergaji besar, kalau mau hidup wajar sepertinya tak kekurangan. Tapi, mereka masih memburu uang haram. Menerima pungli, suap, sogokan dan mengkorup uang negara. Begitulah manusia, tak ada puasnya!

Tapi boleh dong, manusia juga harus berani berkata; Aku nggak mau serakah! -massoes