JAKARTA (Pos Kota) – Calon Gubernur DKI Jakarta, Anies Rasyid Baswedan, kembali menerima keluhan soal isu penggusuran ketika berkampanye di Kampung Pedongkelan, Kayu Putih, Pulogadung, Jakarta Timur, Kamis (22/12/2016).
Rosdah, warga, mengaku khawatir dengan isu penggusuran di sekitar rumahnya. “Kami sudah berada di ujung tanduk. RT-RT lain sudah digusur. Kemarin, kami sebagai rakyat kecil tidak bisa berbuat apa-apa melawan bulldozer dan water canon,” katanya kepada cagub nomor urut 3 itu.
Menanggapi keluhan itu, Anies berjanji tidak akan sembarangan melakukan penggusuran jika nanti terpilih menjadi Gubernur DKI Jakarta. Namun dia akan mengutamakan pendekatan terhadap warga dalam menata Kota Jakarta.
“Saya tegaskan bahwa penggusuran itu cara kuno. Cara yang banyak dilakukan sekarang adalah melakukan peremajaan kampung, peremajaan kota. Dilakukan pembenahan dan itulah cara modern. Bahasa kerennya adalah urban renewal, bukan dengan penggusuran,” ujar mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan itu.
Diakuinya, isu penggusuran, membuatnya prihatin karena hal ini terjadi dalam kurun waktu 2 tahun. Padahal sebelumnya isu ini tidak begitu terdengar. Karena itu dia akan menekankan prinsip keadilan jika nanti dipercaya memimpin Pemprov DKI.
“Kalau ada keputusan yang sulit maka harus dilakukan dialog. Tidak bisa dengan hanya mengirimkan surat perintah penggusuran. Dan juga harus ada solusi. Sebagian keputusan itu sulit, tapi bisa dilakukan dialog. Kita ingin perlakukan warga Jakarta sebagai manusia bukan benda mati,” tambahnya.
Pasangan cawagub Sandiaga Salahuddin Uno itu lantas juga akan melakukan moratorium atas rencana penggusuran dalam tata kelola kota Jakarta. Penundaan ini diharapkan akan memberikan waktu bagi pemerintah untuk menimbang ulang perencanaannya.
“Pemerintah harus berhenti dulu, melihat lagi. Dari lebih 300 titik itu, kita harus melihat satu satu. Jangan sampai ketidakadilan hadir di kota ini,” tutupnya. (ifand/yp)