Saturday, 07 December 2019

Terlibat Pameran ” Burung” Terancam Penjara 10 Tahun

Sabtu, 18 Februari 2017 — 6:49 WIB
pamer-bu

BAGI penggemar burung perkutut, pameran burung itu biasa. Tapi nasib apes ini dialami Giyoto, 39, dari Ngawi (Jatim). Dia jadi urusan polisi gara-gara pamerkan “burung”-nya di depan wanita. Ny. Ratih, 40, yang merasa dilecehkan mengadu ke Polsek dan Giyoto pun terancam penjara 10 tahun.

Sebetulnya soal pameran burung itu hal yang lumrah bagi penggemar burung perkutut. Namanya yang lazim kongkurs. Burung perkutut itu dikerek bersama sangkarnya di tanah lapang, bersama burung-burung yang lain. Selanjutnya dinilai suaranya, mana yang paling bagus anggung-nya. Pemenang bisa menerima hadiah puluhan juta.

Tapi Giyoto warga Kecamatan Kendal, Kabupaten Ngawi ini lain. Dia pamer burung bukan perkutut dalam sangkar, melainkan “burung” dalam sarung miliknya. Bagi pihak yang tidak berkepentingan, jelas itu merupakan pelecehan. Dalam istilah psikologi, Giyoto ini penderita eksibisionis.

Bagi lingkungan tetangganya, kelakuan Giyoto ini sudah biasa. Sering ditegur oleh keluarga termasuk istrinya, jangan lagi-lagi suka pamer burung kecuali terhadap pihak yang berkepentingan. Tetapi karena namanya penyakit, susah dikendalikan. Begitu melihat perempuan cantik, langsung saja dikeluarkan dia punya tit…..eh burung, dengan maksud wanita itu melihatnya. Tentu saja yang jadi korban pelecehan itu terkaget-kaget.

Beberapa hari lalu kembali Giyoto kumat dia punya penyakit. Pas jalan-jalan di desa lain, dia melihat perempuan cantik jalan kaki tak jauh dari Giyoto berdiri. Langsung saja nafsunya bangkit. Lalu tanpa malu-malu dia buka resluiting celana dan dipertontonkan burung miliknya yang tak bisa bernyanyi trilili lili …..itu.

Ny. Ratih kaget sekali, meski di rumah secara insidentil sering melihat pemandangan semacam itu. Karena pameran burung itu bukan dari pihak yang berkepentingan, Ny. Ratih jadi tersinggung oleh ulah Giyoto, dia segera lapor polisi bahwa telah menjadi korban pelecehan seksual.

Tak urung Giyoto dicari dan kemudian ditangkap. Dalam pemeriksaan dia membantah bahwa sengaja pameran burung tanpa izin Dinas Pariwisata. Kala itu dirinya sedang kebelet kencing, sehingga wajar saja kemudian mengeluarkan “burung” miliknya. Sama sekali tak ada niat jahat untuk mempertontonkannya. “GR amat sih, kalau Bu Ratih merasa tak pameri burung saya….,” kata Giyoto seakan yakin akan kebenaran dirinya.

Dalam penyelidikan polisi pada lingkungan pergaulan Giyoto, itu memang sudah bukan rahasia lagi. Sering sekali dia pameran burung tidak pada tempatnya. Tapi karena itu penyakit kejiwaan, tetangga bisa memaklumi. Padahal kata polisi sesuai pasal KUHP, Giyoto bisa terancam hukuman penjara maksimal 10 tahun.

Burung kakak Giyoto, giginya tinggal dua, nenek sudah tua hinggap di jendela. (JPNN/Gunarso TS)