Monday, 14 October 2019

Syafruddin Tumenggung Dijadikan KPK Tersangka, Kejaksaan Agung Belum Bersikap

Kamis, 27 April 2017 — 0:20 WIB
Mantan Ketua BPPN Syafruddin A. Temenggung.

Mantan Ketua BPPN Syafruddin A. Temenggung.

JAKARTA (Pos Kota) – Kejaksaan Agung belum dapat memutuskan nasib Mantan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Tumenggung, setelah KPK menetapkan pula sebagai tersangka kasus BLBI Bank BDNI milik Sjamsul Nursalim.

“Saya belum tahu, ” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah, Rabu (26/4/2017) menjawab soal penyerahan kasus Syafruddin ke KPK agar lebih efisien penanganan kasusnya.

Syafruddin terlebih dahulu dijadikan tersangka oleh Kejagung dalam kasus Victoria atau kasus penjualan Cessie aset PT Adyesta Ciptatama (AC) di Bank BTN pada BPPN, 2003. Dengan dugaan kerugian negara sekitar Rp419 miliar.

Sedangkan, KPK terkait kasus dugaan penyalahgunaan kewenangan dalam penjualan aset Obligor Sjamsul Nursalim. Diduga, Sjamsul masih gagal bayar sekitar Rp3,7 triliun.

Menurut Armisnyah, pihaknya tidak mempersoalkan siapakah yang akan menangani kasus Syafruddin, karena acuan adalah pemberantasan tindak pidana korupsi.”Sejauh ini belum ada permintaan. Jadi kita jalan terus tuntaskan kasus Syafruddin.”

Kasus Syafruddin terkendala adanya tiga saksi kunci yang juga tersangka masih buron sehingga pemberkasannya agak terganggu.

Mereka, adalah Analis Kredit BPPN Haryanto Tanudjaja, lalu Komisaris PT Victoria Sekuritaa Indonesia (VSI) Rita Rosela dan Direktur PT VSI Suzana Tanojo.

KETIGA KALI

Penetapan Syafruddin sebagai tersangka oleh KPK, adalah untuk ketiga kalinya. Pertama, dalam kasus dugaan korupsi dalam penjualan pabrik Gorontalo III yang ditangani oleh Kejaksaan Tinggi (Kejati) DKI.

Namun, kasus ini akhirnya dihentikan penuntutannya oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Jakarta Selatan.

Meski begitu, penghentian penuntutan atau dikenal dengan SKP2 sempat menimbulkan ‘friksi’ antara Jaksa Agung Hendarman Supandji dengan Kajati DKI Rusdi Taher. Ketua tim penyidik asalah Faried Harianto.

Kedua, kasus penjualan Cessie PT AC kepada Victroria Securities International Corppratipn (VSIC), 21 September 2016 yanga hanya Rp 26 miliar. Padahal, sejatinya aset ini bernilai Rp1 triliun lebih. Terakhir, oleh KPK. (ahi)