Tuesday, 22 October 2019

Produk Industri Kulit Kalah Bersaing, Kebijakan Karantina Disalahkan

Senin, 5 Juni 2017 — 13:38 WIB
dokumentasi

dokumentasi

JAKARTA (Pos Kota) – Dinilai bisa menurunkan daya saing industri, kebijakan karantina untuk komoditas kulit sebaiknya dihilangkan. Permintaan dari pabrikan ini terkait  masih impornya baku kulit yang mencapai  sekitar  70% dari total kebutuhan bahan  kulit, sementara  produksi kulit nasional dengan kualitas premium justru seluruhnya diekspor.

Sekjen Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Binsar Marpaung mengatakan pemeriksaan kulit di karantina menambah panjang proses perolehan bahan baku. Di sisi lain, tidak semua bahan baku yang diimpor merupakan kulit mentah yang masih mengandung penyakit.

“Untuk industri alas kaki, kami hanya mengimpor produk jadi kulit, sedangkan produk kulit mentah itu urusannya industri penyamakan kulit. Kulit jadi itu sudah melalui beberapa proses sebelum diperjualbelikan,” jelas Binsar, Senin (5/6).

Menurutnya,  spesifi kasi dari setiap jenis kulit yang diimpor dan diekspor Indonesia memang berbeda-beda. Kulit mentah memang masih rentan terhadap penyebaran penyakit tertentu, sedangkan produk kulit jadi telah melalui beberapa proses di pabrik. Pemerintah seharusnya membedakan bahan baku kulit mentah dan kulit jadi yang sudah merupakan barang industri.

Panjangnya birokrasi pemasukan kulit juga  menyebabkan harga bahan baku industri alas kaki dalam negeri dari negeri tetangga. “Industri alas kaki merupakan industri yang diprioritaskan. Kami membuat sepatu sesuai dengan pemesanan sehingga harus memasukkan berbagai jenis kulit. Kalau kulit jadi dikenakan tindakan karantina, mengapa produk sepatu dan tas tidak diwajibkan?,” kata Binsar.

Dari data yang dihimpun Aprisindo, biaya produksi alas kaki produksi Indonesia memang lebih tinggi dari negara negara produsen yang berada dalam satu kawasan. Biaya produksi paling tinggi yaitu di China, sehingga sebagian besar industri mereka merelokasi pabriknya ke Vietnam dan Indonesia.

Biaya produksi sepatu per pasang di China mencapai 6,24 dolar AS per pasang dan Indonesia 5,60 dolar AS per pasang. Biaya produksi per pasang sepatu di Vietnam dan Kamboja lebih murah, yaitu masingmasing 5,03 dan 4,8 dolar AS.

Relokasi Pabrik

Ketua Aprisindo Eddy Widjanarko mengatakan relokasi sejumlah pabrik alas kaki dari China ke Indonesia merupakan peluang untuk meningkatkan kapasitas produksi. Kendati demikian, Indonesia masih harus bertarung dengan Vietnam dan Kamboja yang saat ini biaya produksinya paling murah.

“Kalau tidak diantisipasi, industri alas kaki kita bisa begini-begini saja. Beberapa tahun terakhir dominasi China memang menurun, tetapi penurunan itu tidak dinikmati Indonesia, malah oleh Vietnam. (Tri/win)