Friday, 13 December 2019

Putusnya Urat Malu!

Rabu, 7 Juni 2017 — 5:28 WIB
topeng

MANUSIA memang tidak sempurna. Jadi pasti ada saja celanya. Oleh sebab itu, untuk tidak tercela, maka haruslah berusaha sekuat mungkin menjaga sebaik-baiknya.

Maklum, sedikit saja salah jalan, maka kebaikan yang selama ini dipupuk menjadi habis atau musnah. Ibarat kata pepatah, panas setahun dihapus oleh hujan sehari. Apalagi hujan seharian, bisa jadi menyebabkan banjir?

Tentang menjaga kebaikan ini juga nasihat, banyak yang terjadi di masyarakat. Ambil contoh saja, seorang mahasiswa merampas HP pelajar. Ini dilakukan oleh pelaku karena mengaku kiriman orang tua nggak kunjung datang. Sementara seorang ibu juga mengutil kosmetik di swalayan. Alasannya sama, belum membayar kamar kos, sementara sang suami yang diharapkan juga sedang dalam masalah.

Kedua pelaku ini, mungkin dasarnya mereka adalah orang baik. Seperti mahasiswa misalnya, hanya demi satu HP dia rela mengorbankan harga dirinya sebagai orang terpelajar?

Rugi bagi sang ibu dan mahasiswa yang sudah sedemikian rupa menjadikan dirinya baik. Baik di lingkungan kawan sekampus,tapi harus terseret pada kejahatan.

Jadi, katakanlan orang yang keliru jalan tadi, betapa sangat menyesalnya. Tapi, buat penjahat yang benar- benar penjahat, seperti perampok, biar berulang kali masuk penjara, mereka nggak ngaruh. Malu? Nggaklah! Kata orang, urat malunya sudah putus!

Eh, ngomong-ngomong apa koruptor yang sangat merugikan orang banyak, menggeragoti uang negara, masih punya rasa malu,nggak ya?

Hemm nggak tahu deh. Kerena tersangka koruptor masih sempat cengar cengir sambil melambaikan tangan. Nggak jelas, lambaian apa itu? -massoes