Monday, 18 November 2019

Akhiri Aksi Bully Tanpa Diskriminasi

Rabu, 19 Juli 2017 — 5:04 WIB

AKSI bully akhir-akhir ini kembali menjadi perbincangan publik. Secara kebetulan terjadi di saat memasuki tahun ajaran baru, meski aksi bully itu sendiri tak terkait langsung dengan masa orientasi pengenalan kampus ( Ospek) atau Masa Orientasi Sekolah ( MOS) karena kedua kegiatan tersebut sekarang tidak ada lagi.

Seperti dua video bully yang menjadi viral selama pekan ini, yaitu aksi terhadap seorang mahasiswa universitas swasta dan terhadap anak SMP yang diduga terjadi di lorong Mal Thamrin City.

Dari pengakuan pelaku, aksi mereka secara spontan dan bentuk candaan. Artinya tidak dilakukan secara terencana dan tidak bermaksud untuk melecehkan, apalagi tindak kekerasan.

Apapun alasannya video sudah terlanjur tersebar luas yang mencitrakan pandangan negatif bagi proses pembelajaran. Labelisasi bully sudah terbentuk dengan beragam penilaian setelah publik menonton video.

Jika ditelusuri, aksi bully bisa terjadi karena berbagai sebab dan latar belakang.
Pertama, jika pelakunya masih di bawah umur, sebut saja siswa SD atau SMP, besar kemungkinan karena latar belakang peniruan. Artinya meniru apa yang sering dia lihat kemudian mencoba mengaplikasinnya selagi memiliki kesempatan dan kemampuan.
Aksi tiruan ini akibat pengaruh film, sinetron atau tayangan yang lain.

Kedua, bagi pelaku dari semua golongan usia, bisa dilatarbelakangi karena yang bersangkutan pernah mengalami aksi kekerasan serupa. Pengalaman mendapatkan aksi kekerasan bisa didapat dari dalam lingkungan keluarganya, sekolahnya atau lingkungan bermain. Ini sering disebut semacam aksi ‘balas dendam’.

Ketiga, ingin terlihat superior ( istimewa) di lingkungannya.
Terkadang pelaku bully, merasa membutuhkan korban untuk terlihat penting. Korban yang dimaksud, seseorang yang secara fisik dan emosional lemah, atau terlihat berbeda dari orang normal.

Ada kalanya juga, pelaku menginginkan menjadi sosok yang populer atau mampu mendominasi. Seringnya, para pelaku bullying merasa menjadi sosok yang lebih kuat dari korban yang ia pilih.

Untuk mencegah aksi kekerasan, apapun ragam dan bentuknya, harus dimulai dari lingkungan keluarga.

Mengapa? Karena pengaruh positif dan negatif bermula datang dari lingkungan keluaganya. Banyak kasus keluarganya baik dan harmonis serta nenjadi panutan masyarakat, tetapi si anak merasa kurang diperhatikan atau merasakan adanya diskriminasi kasih sayang bisa membuat si anak mencari perhatian di luar dengan melakukan aksi superior yang tergolong bully.

Peran guru/ sekolah tak kalah pentingnya melalui bimbingan/konseling terhadap siswa yang diduga memiliki potensi melakukan bully atau menjadi korban bully.

Di sisi lain, perlu regulasi aturan perundangan yang mendukung keterlibatan semua pihak dalam mencegah aksi bully terutama dalam melindungi anak dan wanita, termasuk keberpihakan kepada yang berkebutuhan khusus.

Kita sepakat aksi bully harus diakhiri dengan melibatkan semua pihak, melalui aturan main dan penegakan hukum tanpa diskriminasi. (*).