Friday, 18 October 2019

Sang Istri Kurang Melayani Anak Tiri Buat Pelampiasan

Minggu, 30 Juli 2017 — 5:27 WIB
gantiii

 

SUAMI model Subandi, 35, makin banyak saja. Punya anak tiri cantik, dikeloni sendiri dengan alasan istri kurang melayani. Paling tragis, Ny. Harini, 40, sebagai istri diam saja, ketimbang malu sama tetangga. Ternyata ulah Subandi ini menyebabkan Anita, 17, hamil. Gegerlah warga dan Subandi pun diproses.

Pemerintah sudah lama punya tekad untuk mengebiri predator seks, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya. Alasannya biasa, Komnas HAM menganggap itu sebagai pelanggaran HAM. Akibatnya pelanggaran seks secara biadab terus terjadi. Bapak tiri selalu dicurigai sebagai “setan doyan sambel”, karena banyaknya anak tiri hamil akibat jadi korban kebiadaban ayah tirinya.

Anita warga Tarakan, Kalimantan Timur, entah merupakan korban ke berapa, sebagai akibat keganasan ayah tiri. Selama ini skandal itu tak terungkap, karena pembawaan Subandi sangat santun, pintar bicara dan seiman pula. Ketika perut Anita menggelembung sampai pusernya bergeser dari garis ekuator, barulah penduduk geger. Siapa pemegang saham mayoritas atas Anita yang memang cantik seperti Anita Rahman penyiar TVRI tahun 1980-an.

Kisahnya dimulai ketika ibu Anita, Ny. Harini menikah dengan Subandi 5 tahun lalu. Kala itu Anita masih usia 12 tahuan, sehingga belum kelihatan rona kecantikanya. Subandi selaku ayah tiri juga tidak pernah berpikir aneh-aneh. Dia menganggap Anita seperti anak sendiri, meski itu bukan hasil produksinya, mapun lisensi.

 

Ternyata kebahagiaan Subandi sebagai suami tak berlangsung lama. Belakangan istri sering menolak hasrat suami. Alasannya macam-macam, yang ngantuklah, yang capeklah, yang sedang palang merahlah. Karenanya Subandi sering kecewa, sudah mendekati istri dengan voltase penuh, eh tiba-tiba ditolak. Langsung saja tegangan ngedrop tinggal 110 volt.

Subandi sering mengancam bahwa istri yang menolak melayani suami, akan dikutuk malaikat sampai pagi. Tapi Harini tetap tak peduli, sehingga Subandi harus mencari solusi sendiri. Eh, tiba-tiba setan memberi masukan, “Ngapain kamu yak-yakan ke mana-mana, anak tirimu sendiri cakepnya selangit. Aku saja kalau bukan setan sudah kusikat sendiri,” kata setan sangat menginspirasi.

“Oh iya,” kata Subandi sambil menepuk jidat. Dipikir-pikir, Anita memang cantik, dan sedang mekar-mekarnya. Maka dengan alasan istri mogok ranjang, dia mencoba mendekati Anita. Awalnya diajak makan nasi goreng bersama, meniru gaya Prabowo – SBY. Cuma bedanya, makan nasi goreng ala Cikeas itu berkaitan dengan politik 2019, sedangkan nasi goreng Bandi – Anita sekedar politik cinta asmara.

Setelah lobi-lobi seperti itu, Subandi baru mengemukakan maksud sebenarnya, presis niru gaya Presiden Jokowi saat jadi Walikota Solo. Warga diajak makan bersama berkali-kali, kemudian baru digusur. Kalau politik Subandi bukan digusur, tapi justru diajak tidur dengan segala pernik-perniknya.

Ternyata Anita menolak, meski nasi goreng sudah masuk ke perut. Subandi pun mulai unjuk gigi. Katanya, jika tak mau melayani akan disetop biaya sekolahnya di SMA. Bahkan kalau perlu dibunuh. Barulah gadis itu ketakutan, dan akhirnya bertekuk lutut dan berbuka paha untuk ayah tirinya.

Sekali waktu ketika keduanya sedang berbuat mesum, kepergok oleh istrinya. Tapi karena takut jadi geger, dia memilih diam. Tentu saja Subandi seakan memperoleh legitimasi. Baru ketika tiba-tiba Anita hamil, penduduk geger dan Subandi sebagai pemilik “saham” mayoritas ditangkap polisi. Dalam sidang di PN Tarakan dia divobis 15 tahun penjara. “Anak itu disayang bukannya malah digituin.” Kata hakim.

Mana Bu Mensos? Subandi layak dikebiri kimia, nggak? (JPNN/Gunarso TS)