Saturday, 16 November 2019

Bicara Uang di Kasus Dugaan Suap Panitera PN Jaksel: Ada Sandi Sapi, Ada Kambing

Selasa, 22 Agustus 2017 — 18:22 WIB
Agus Rahardjo, Ketua KPK, menunjukkan barang bukti dalam kasus dugaan suap yang melibatkan panitera PN Jakarta Selatan. (julian)

Agus Rahardjo, Ketua KPK, menunjukkan barang bukti dalam kasus dugaan suap yang melibatkan panitera PN Jakarta Selatan. (julian)

JAKARTA (Pos Kota) – Ada sandi unik digunakan oleh panitera pengganti Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Tarmizi dan kuasa hukum PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI), Akhmad Zaini, dalam memuluskan dugaan praktik suap yang mereka jalankan.

Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Agus Rahardjo mengungkapkan, kedua orang yang sudah berstatus tersangka terkait pengamanan perkara di PN Jaksel itu menggunakan istilah sapi dan kambing sebagai sandi untuk uang yang akan ditransaksikan.

“Dalam komunikasi antara AKZ (Akhmad Zaini) dan TMZ (Tarmizi) digunakan sandi ‘sapi’ untuk merujuk pada nilai ratusan juta, dan sandi ‘kambing’ yang merujuk pada puluhan juta,” kata Agus, di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Setiabudi, Jakarta Selatan, Selasa (22/8/2017).

Saat menyampaikan itu, Agus sempat menggeleng-gelengkan kepala. Ia menduga, istilah itu digunakan karena transaksi berlangsung menjelang Hari Raya Idul Adha.

“Mungkin ini karena situasi mendekati Hari Kurban ya,” ucap Agus sembari tertawa.

Ia pun memaparkan sempat terjadi tawar-menawar oleh Tarmizi kepada Zaini. “TMZ sempat minta 7 sapi dan lima kambing atau senilai Rp750 juta pada AKZ, tapi sampai akhirnya disepakati 4 sapi atau senilai Rp400 juta untuk mengamankan perkara tersebut,” ujarnya.

Lembaga antirasuah menduga transfer dana ini bukan pemberian pertama. Dari hasil pemeriksaan diketahui, sebelumnya telah diterima pada tanggal 22 Juni 2017 melalui transfer rekening BCA AKZ ke pegawai honorer di PN Jaksel, TJ, senilai Rp25 juta.

Bahkan, Agus membeberkan, selanjutnya ada upaya menyamarkan transaksi pada transfer kedua, 16 Agustus 2017. Yaitu dengan memberikan keterangan ‘untuk pembayaran tanah’.

“Transfer dari rekening BCA Zaini kepada TJ lagi senilai Rp100 juta dan menyamarkan keterangan di dalam pengiriman transfernya adalah DP untuk pembayaran tanah,” beber Agus.

Bukan hanya itu, transaksi kembali berlanjut pada 21 Agustus 2017. Yaitu melalui transfer rekening BCA Zaini ke TJ, senilai Rp300 juta dengan keterangan ‘pelunasan pembelian tanah’.

“Sehingga diduga total penerimaan sebesar Rp425 juta,” tuntas mantan Ketua Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) itu.

Atas tindak pidana yang diduga dilakukannya, Tarmizi yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(Baca: KPK Tetapkan Panitera Pengganti PN Jaksel dan Pengacara Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Suap)

Sementara Zaini ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap dan disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sedangkan TJ, diketahui bekerja sebagai office boy (OB) merangkap juru parkir, hanya ditetapkan sebagai saksi. Sebelumnya, TJ ikut terjaring dalam operasi tangkap tangan (OTT) di lingkungan PN Jaksel bersama Tarmizi dan Zaini.

(Baca: Ini Kronologi Penangkapan Panitera PN Jaksel Hingga Ditetapkan Jadi Tersangka)

Dalam operasi senyap yang dilancarkan tim penyidik KPK, Senin (21/8/2017) siang, itu juga diamankan rekan Zaini, FJG dan S, sopir rental mobil yang disewa Zaini. Senasib dengan TJ, FJG dan S hanya dijadikan sebagai saksi. (julian/yp)