Monday, 14 October 2019

Pelaku Ujaran Kebencian yang Ditangkap Polda Jateng Tidak Terkait Sarachen

Kamis, 21 September 2017 — 23:02 WIB
Kasubdit II Teddy Fanani bersama tersangka Slamet Wibowo saat gelar kasus di kantor Ditreskrimum Polda Jateng

Kasubdit II Teddy Fanani bersama tersangka Slamet Wibowo saat gelar kasus di kantor Ditreskrimum Polda Jateng

SEMARANG ( Pos Kota ) – Tim Cyber Crime Ditreskrimsus Polda Jawa Tengah menangkap seorang pelaku pengujar kebencian . Terduga Slamet Wibowo,29, melakukan kejahatannya di media sosial( medsos) Facebook .

Kasubdit II Ditreskrimsus Polda Jateng, AKBP Teddy Fanani mengatakan, pelaku menggunakan Facebook untuk melakukan penghinaan, ujar kebencian, dan mengarah konten Suku, Ras, dan Agama (SARA) “Postingan ujaran kebencian tersebut dilakukan satu tahun yaitu sejak bulan Juli 2016 hingga Agustus 2017,” ujarnya saat gelar perkara di kantor Ditreskrimsus Polda Jateng, Kamis (21/9/2017).

Disebutkan , informasi adanya ujaran kebencian melalui medsos itu berasal dari unit Cyber Bareskrim Polri. Informasi tersebut langsung ditindaklanjuti dengan melakukan operasi cyber . Tim Polda Jateng mulai mengambil postingan-postingan yang diunggah oleh pelaku. Polisi juga berhasil mendapatkan akun pelaku dan mulai menyusun strategi untuk menangkap pelaku .

“Tim Cyber Polda Jateng juga menyamar menjadi seorang wanita bernama Dea dan melakukan chatting melalui via Whatsapp sehingga tersangka tertarik,” tuturnya.

Lebih lanjut, pihaknya membuat janji dengan tersangka untuk melakukan pertemuan pada Selasa (19/9). Pada saat pertemuan itulah sekitar pukul 17.15 sore dilakukan penangkapan.

Dari tangan pelaku disita sejumlah barang bukti seperti , satu handphone, KTP, dan screenshot ujaran kebencian yang dilakukan tersangka . Pelaku melakukan aksinya dengan menggunakan akun Rio Wibowo.

Dari pemeriksaan awal diketahui pelaku tidak terkait akun sarachen. Ujaran kebencian tersebut dilakukan atas dasar inisiatifnya sendiri . Pelaku mengaku kecewa dengan pemerintahan Jokowi .

Tersangka dijerat dengan pasal 45 A ayat 2 jo pasal 28 ayat 2 UU No 8 tahun 2011 serta perubahannya pasal UU No 19 tahun 2016 tentang ITE. Tersangka diancam hukuman maksimal 6 tahun penjara . ( Suatmadji )