Friday, 13 December 2019

Panglima TNI Akui Berpolitik, Tapi Politik Negara

Selasa, 3 Oktober 2017 — 18:34 WIB
Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama Kepala Staf tiga angkatan, usai memimpin upacara dan tabur bunga di atas KRI dr. Soeharso-990 di  Banten, Selasa (3/10).

Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo bersama Kepala Staf tiga angkatan, usai memimpin upacara dan tabur bunga di atas KRI dr. Soeharso-990 di Banten, Selasa (3/10).

BANTEN (Pos Kota) –  Panglima TNI Jenderal TNI Gatot Nurmantyo mengakui bahwa sebagai panglima, dirinya berpolitik.  Meski begitu, politik yang dimaksud yakni politik negara, bukan politik praktis. Sehingga, tindakan yang dia lakukan selama ini merupakan pelaksanaan tugas yang sesuai dengan konstitusi.

Pernyataan ini disampaikan Panglima TNI menanggapi pertanyaan wartawan terkait adanya  tudingan manuver politik yang diditudingkan kepadanya dalam dua pekan ini.

“TNI dalam posisi netral dalam politik praktis. Ini yang penting, Panglima TNI pasti berpolitik. Politiknya adalah politik negara bukan politik praktis,” ujar Gatot usai memimpin upacara dan tabur bunga di atas KRI dr. Soeharso-990 saat mengarungi perairan Selat Sunda, Banten, Selasa (3/10).

“Sebagai panglima saya harus melaksanakan tugas sesuai konstitusi. Politik saya politik negara,” tambahnya.

Gatot menuturkan, selama 72 tahun berdiri, TNI selalu memastikan posisinya di tengah masyarakat. Hal itu, lanjut Gatot, sejalan dengan tema HUT ke-72 TNI tahun 2017, yakni ‘Bersama Rakyat, TNI Kuat’.

Ia mengatakan, sejarah telah membuktikan bahwa TNI tidak pernah berjuang sendirian dalam perang merebut kemerdekaan. Oleh karena itu, Gatot menegaskan bahwa TNI akan selalu berpihak pada rakyat dan bersikap netral dalam politik praktis.

“TNI tidak pernah berjuang sendiri selalu bersama dengan rakyat. Maka sentral kekuatan TNI adalah bersama rakyat. Tanpa rakyat TNI tidak ada apa-apanya,”  tegas Gatot. (rizal/win)