Wednesday, 23 October 2019

Pembuat Mobil-mobilan Ini Sekolahkan Anak Hingga S2

Jumat, 6 Oktober 2017 — 2:04 WIB
Umar Marsaad, 75, pedagang replika mainan anak-anak dari barang bekas di Jalan Raya Pasar Minggu, Jaksel. (Rachmi)

Umar Marsaad, 75, pedagang replika mainan anak-anak dari barang bekas di Jalan Raya Pasar Minggu, Jaksel. (Rachmi)

BERCITA-CITA  ingin menjadi sarjana teknik mesin, namun garis tangan Umar Marsa’ad, 75, menentukan lain. Bapak lima anak ini ‘terdampar’ menjadi pengrajin replika berbagai jenis transportasi dan mainan anak-anak berbahan kayu yang bermarkas di Jalan Raya Pasar Minggu, Jaksel.

“Sejak kecil saya rajin buat mobil-mobilan dari gedebong pisang, jeruk bali dan sering saya kasih ke teman-teman. Saya juga seneng ngutak-ngutik mesin. Lantas saya berpikir, wah enaknya jika saya bisa merintis karir dari teknik mesin,” kenang Umar saat ditemui di kiosnya ‘Senang Anak’ di kawasan Pasar Minggu, beberapa waktu lalu.

Ia merupakan pelanggan setia Pos Kota sejak puluhan tahun. Pria asal Serang, Banten ini menuturkan awal merantau ke Jakarta pada 1968 saat masih bujang dan langsung menempati lokasi sekarang. Sempat menekuni berbagai pekerjaan untuk menopang hidup dan bekal berumah tangga.

Pada 1977, Umar iseng-iseng membuat mainan anak-anak dari barang bekas yang berkutat pada transportasi umum. Di antaranya helicak, oplet, truk, bis tingkat, miniatur bis dan kereta api, bemo, kincir angin, mobil tangki hingga monas yang semuanya dari kayu. Keisengan ini secara tidak langsung mengingatkan dirinya akan hobi di saat anak-anak yakni membuat mobil-mobilan dari gedebong pisang.

“Saya juga senang buat wayang dan kincir angin dari kayu. Saat itu modal saya Rp800 untuk buat kincir angin. Belum juga selesai, tapi sudah dipesen pembeli. Betapa senangnya hati ini,” ujarnya sumringah.

Umar berprinsip agar bisa dikenal konsumen, ia harus memiliki keunikan untuk produknya. Strategi ini nampaknya tepat. Kalangan orangtua khususnya anak-anak bosan dengan mobil-mobilan maupun mainan dari besi dan plastik, sehingga karya Umar langsung diminati.

Tak ayal serangkaian puluhan produknya seperti bus tingkat, mobil tangki, dan kereta api laris terjual. Meski dari barang bekas, namun dipoles dengan cat yang menarik dan indah dipandang mata. Pembelinya pun beragam mulai masyarakat menengah ke bawah, pejabat, bintang film, hingga turis asing. Sejumlah karyanya hingga kini masih terpajang di kantor pemerintahan antara lain di lantai 18 Balai Kota DKI Jakarta.

EKSPOR KE BELANDA

Hingga 2010 ke bawah, omset dari usaha yang digeluti Umar terus bersinar. Kendati tidak lulus SD, ia bersyukur seluruh anaknya jebolan sarjana dan bahkan ada yang magister (S2). Ia juga memiliki rumah, dan sawah di Serang. “Sebelum bom Bali pada 2001, saya bisa mengekspor ke Belanda dan Australia. Hingga 2010, omset saya berkisar Rp50 – Rp60 juta per bulan,” ujar anak pensiunan Polri ini.

Umar dibantu 6 anak buah di kios. Serta memberdayakan sejumlah warga sekitar membuat aneka mainan dari kayu. Untuk menghemat biaya produksi, ia berkolaborasi dengan sejumlah perajin mainan di Karawang, Balaraja, Lampung dan Bandung dalam membuat berbagai replika transportasi.

Di kiosnya berukuran sekitar 8×5 meter persegi, kini Umar hanya mampu menjual sekitar 15 jenis produk dari sebelumnya mencapai 40 item. Modal yang semakin terbatas, daya beli masyarakat yang terus melemah serta derasnya serbuan produk impor, membuat produksinya mulai meredup. Ia menjual replika truk mini dari triplek bekas mulai Rp70.000 hingga Rp250.000, kuda-kudaan berkisar Rp125 ribu – Rp250 ribu. Bajaj mini dari triplek Rp35 ribu.

Toh ia tetap bersyukur di usia senja dirinya masih produktif. Buktinya Umar masih mampu membuat replika truk berukuran sedang dalam waktu 2 hari. Ia bertekad akan tetap menggeluti bisnis tersebut hingga akhir hayat. Kendati kelima anaknya minta supaya Umar beristirahat dan menikmati hidup bersama sang istri. “Hidup ini seperti air mengalir, jadi kita jalani saja,” imbuhnya. (rachmi/ruh)