Thursday, 05 December 2019

Tren Gugat Cerai di Kabupaten Bogor Tinggi, Ini Penyebabnya

Kamis, 9 November 2017 — 14:45 WIB
Ilustrasi

Ilustrasi

BOGOR (Pos Kota) – Tren perceraian di Depok meningkat tajam. Ini  terlihat dari antrean permohonan nikah dan cerai setiap harinya, yang menumpuk di Pengadilan Agama (PA) Kota Bogor.

Banyaknya pemohon, pasangan suami istri (pasutri) yang hendak mengajukan proses perceraian, harus menunggu berminggu-minggu hingga bulan, hanya untuk mendapat giliran sidang.

Bahkan, pasutri yang akan menjalani sidang cerai, butuh waktu berbulan-bulan hingga proses gugatannya sampai keluar putusan pengadilan.

Panitera Muda Hukum kantor PA Kota Bogor, Agus Yuspian kepada wartawan mengatakan, tingginya kasus gugat cerai berdasarkan pengakuan para istri dalam ruang persidangan, karena tidak sanggup lagi mempertahankan hubungan rumah tangga dengan alasan utama mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).

Alasan lain, karena ditelantarkan, suami berselingkuh atau memiliki wanita idaman lain dan faktor ekonomi. Agus menambahkan, data PA Bogor, dalam kurun waktu Januari-September 2017, daftar gugatan cerai yang masuk mencapai 1.263 kasus.

“Jika di asumsi rata-rata, maka dalam sebulan, ada 140 pasutri yang mengantre putusan sidang cerai. Tahun ini lebih tinggi, jika dibanding tahun sebelumnya yang bila dirata-ratakan jumlahnya sebanyak 105 kasus dalam sebulan,” kata Agus.

Usia pasangan yang gugat cerai juga rata-rata didominasi pasangan muda berusia 20-35 tahun.  “Kebanyakan mereka cerai karena masalah ekonomi. Jumlahnya mencapai 211 kasus. Yang meninggalkan pasangan, ada 54 kasus dan KDRT, ada 14 perkara, poligami 2 kasus serta persoalan murtad dan dihukum penjara,” ujar Agus.

Tingginya akan perceraian disikapi PA Kota Bogor, dengan melakukan mediasi bagi pasangan yang hendak bercerai. “Kami sebisa mungkin, lakukan mediasi, guna mencegah perceraian. Permasalahan dalam rumah tangga, bisa disrlesaikan tanpa harus bercerai. Maka itu, kami sendiri menyediakan lembaga konsultasi sebagai langkah antisipasi,” ungkapnya.

Agus menambahkan, tren cerai di tiga tahun terakhir, mengalami peningkatan cukup signifikan. Pada tahun 2011, PA Bogor mencatat 362 permohonan perceraian. Di tahun 2012, ada 514 permohonan perceraian. “Ini terjadi peningkatan hampir dua kali lipat dalam satu tahun,” katanya.

Lalu di tahun 2013, ada 631 permohonan perceraian. Masuk tahun 2014, tercatat 228 pemohon perceraian di PA Bogor.  Memasuki tahun 2015, PA Kota Bogor mencatat ada 1.528 kasus. Di tahun 2016, naik mencapai 1.632 kasus.

“Dan masuk 2017 hingga September, sudah mencapai 1.263 kasus. Tercatat yang gugat cerai, untuk pendidikan akhir SMA, paling tinggi. Disusul lulusan S1 dan SMP. Jadi semuanya orang berpendidikan,”tuturnya.  (yopi/win)