Wednesday, 23 October 2019

Menpora Harus `Turun Tangan` Selamatkan Tenis Indonesia

Selasa, 21 November 2017 — 14:01 WIB
Johanes Susanto

Johanes Susanto

JAKARTA (Pos Kota) -Menteri Pemuda dan Olahraga (Menpora) Imam Nahrawi diminta “turun tangan” untuk menyelamatkan tenis Indonesia dari kehancuran. Pasalnya, Ketua Umum PP Pelti, Wibowo Suseno Wirjawan memaksakan I Gede Widiade masuk dalam bursa pencalonan Ketua Umum PP Pelti dengan melanggar aturan yang dibuat PP Pelti pada Musyawarah Nasional (Munas) Pelti di Banjarmasin, Kalimantan Selatan, 24-26 November 2017.

“Cukup lah satu periode saja tenis Indonesia mengalami penurunan prestasi di bawah kepemimpinan Wibowo Suseno Wirjawan. Saatnya, Menpora Imam Nahrawi “turun tangan” menegakkan aturan demi menyelamatkan tenis Indonesia sebelum terperosok kembali ke jurang kehancuran,” kata Wakil Ketua Pengprov Pelti DKI Jakarta, Johannes Susanto di Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Alasan Johannes meminta Imam Nahrawi turun tangan karena Indonesia akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018 dimana cabang olahraga tenis diharapkan mampu menyumbangkan medali. “Bagaimana tenis bisa menyumbangkan medali di Asian Games 2018 kalau dipimpin figur yang tidak mengerti tenis. I Gede Widiade itu kan orang sepakbola. Cukup lah dia mengurus Persija Jakarta saja,” katanya.

Masuknya I Gede Widiade, kata Johannes Susanto, jelas menyalahi aturan yang dibuat PP Pelti sendiri. Dalam tahap awal penjaringan, Tim Penjaringan yang diketuai oleh Susan Soebakti telah menerima lamaran dari tiga bakal calon yakni Rildo Ananda Anwar, Anton Lukmanto, dan Umbu Samapaty. Tapi yang memenuhi persyaratan administrasi yakni minimal mendapat dukungan tertulis dari 10 Pengurus daerah (Pengda) Pelti, ternyata hanya Rildo yang lolos.

Dalam edaran yang disebarkan lewat media sosial oleh Susan Soebakti dinyatakan bahwa batas akhir pendaftaran calon ketua umum adalah hanya sampai tanggal 5 November 2017 setelah dibuka sejak 2 Oktober. Dalam edaran tersebut juga disebutkan bahwa penetapan Caketum yang maju dalam munas ditentukan pada 13 November 2017.

“Munculnya nama I Gede Widiade yang masuk usai deadline penjaringan caketum tadi mencerminkan bahwa Wibowo Suseno Wirjawan telah menciderai fair play,” tegasnya.

Yang lebih menggelikan lagi, kata Johannes, Wibowo Suseno Wirjawan langsung mengumumkan calon figur Ketua Umum PP Pelti. “Etikanya calon figur ketum PP Pelti itu bukan diumumkan sendiri tetapi diumumkan Ketua Tim Penjaringan,” ujarnya lagi.

Wibowo Suseno Wirjawan sendiri beralasan masuknya I Gede Widiade untuk meramaikan pemilihan Ketum PP Pelti. “Lha kalau kita sudah ngikutin (deadline) tanggal 5 November harus diserahkan, tiba-tiba yang lain bisa nyusul. Lha kok boleh? Bukan soal rame gak rame, atau kalah menang, tapi keseriusan aturan penjaringan yang harus diikuti. Kalau dari awal sudah salah nanti seterusnya salah semua,” sesal Susanto.

(prihandoko/sir)