Friday, 18 October 2019

Jakarta Selatan Masih Dikepung Gelandangan dan Pengemis

Kamis, 4 Januari 2018 — 20:52 WIB
Petugas Sudin Sosial Jaksel menjaring psikotik yang mengganggu warga di Pasar Minggu. (Rachmi)

Petugas Sudin Sosial Jaksel menjaring psikotik yang mengganggu warga di Pasar Minggu. (Rachmi)

JAKARTA (Pos Kota) – Meski sering ditertibkan, Jakarta Selatan tetap dikepung gelandangan dan pengemis. Selama 2017, Suku Dinas Sosial (Sudinsos) wilayah ini menjaring 1.492 Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS).

Selain penjaringan yang intensif agar Jaksel tidak menjadi hutan PMKS, juga diperlukan pembinaan berupa pelatihan dan ketrampilan agar PMKS itu tidak kembali ke jalanan. Serta keterlibatan para pemangku kepentingan agar penanganan PMKS dapat optimal.

“Penanganan PMKS di DKI maupun di Jaksel tidak melulu hanya menjaring mereka dan mengirim ke panti sosial. Tapi yang lebih mendesak saat ini pemberdayaan PMKS agar bisa mandiri melalui penanganan secara terpadu oleh berbagai pihak,” kata Rozak Wirawan, warga Kebayoran Baru menanggapi ribuan PMKS yang dijaring Sudinsos Jaksel selama 2017, Kamis (4/1/2018).

Kepala Sudinsos Jaksel, Mursidin Nasir mengatakan Tim Reaksi Cepat (TRC) Petugas Pelayanan, Pengawasan dan Pengendalian Sosial (P3S) menjangkau 1.492 PMKS di sejumlah titik pantau di 10 kecamatan. “Kami menjangkau PMKS karena meresahkan masyarakat,” ujar Mursidin.

Dari 1.492 PMKS tersebut antara lain 320 penderita gangguan kejiwaan (psikotik), 268 gelandangan, 217 pengamen, 220 orang terlantar, 191 pengemis, 80 anak jalanan, dan 14 wanita penghibur.

Kepala Seksi Rehabilitasi Sosial Sudinsos Jaksel, Anshori menambahkan ribuan penyakit masyarakat itu digelandang ke Panti Sosial Bina Insan (PSBI) Bangun Daya 1 Kedoya, dan Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 2 Cipayung. (Rachmi/win)