Wednesday, 20 November 2019

Kemenpar Pertemukan Empat Komponen Industri Pariwisata

Rabu, 21 Maret 2018 — 13:39 WIB
Menteri Pariwisata Arief Yahya. (dok.Kemenpar)

Menteri Pariwisata Arief Yahya. (dok.Kemenpar)

JAKARTA – Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mempertemukan empat komponen industripariwisata. Mulai dari unsur pemerintah, artis, enterpreneur hinggapengelola tempat wisata.

Pertemuan dilakukan dalam Workshop Matchmaking CoE, Digital Destination, Diaspora Restauran, with Co Branding Partners. Lokasinya di Royal Hotel Kuningan, Jakarta, Selasa (20/3). Tujuannya, untuk mempromosikan industri pariwisata Indonesia secara massif.

“Empat komponen kita pertemukan. Semuanya merupakan partner Kemenpar di tahun 2018. Saya harap pertemuan kali ini bisa menghasilkankerjasama dengan baik,” ujar Deputi Pengembangan Pemasaran I Kemenpar, I Gde Pitana.

Menurutnya, kerjasama itu prasyarat dan keharusan maju bersama. Sedangkan pemerintah akan men-support industri untuk pembangunan pariwisata. “Kami jadi mak comblang. Sehingga, dari industri yang bisa menjalinkerjasama. Apa yang bisa dikontribusi oleh destinasi digital. Apa yang bisa dikontribusi diaspora restaurant, CEO, dipertemukan untuk mencapai sesuatu kerjasama antar pelaku industri,” kata Pitana.

Pakar Marketing yang juga Tenaga Ahli Menteri Pariwisata Bidang Manajemen Strategis Kemenpar Yuswohady menambahkan, akan ada empat kategori partnership package dalam workshop ini. Yang pertama ada kategori Wonderful Indonesia. Di kategori ini, syarat utamanya partner harus melakukan ekspor. Tentunya dengan brand sendiri minimal dua tahun. Lalu yang kedua sudah hadir minimal di tiga negara.

Kemudian, ada kategori Pesona Indonesia Partner. Ketiga terdapat endorser of WI/PI dan yang terakhir Friends of WI/PI.”Yang friend ini bisa dilakukan siapa saja. Walaupun tidak termasukdalam 3 kategori lainnya, tetapi memiliki komitmen untuk mempromosikan WI/PI,” kata Yuswohady.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, mengapresiasi Workshop yang digelar untuk menyatukan persepsi ini. Dalam hal branding atau pemasaran, Menpar memiliki strategi co-branding dengan 10 existing restoran Indonesia di luar negeri.

“Saya telah mencoba namun gagal untuk membuka restoran di luar negeri. Biayanya tidak murah. Dan pemerintah tidak menyediakan anggaran. Sebagai pembanding, pemerintah Thailand memberi subsidi setara dengan US$ 100 ribu kepada yang membuka restoran Thailand. Akhirnya saya putuskan adalah branding existing restoran yang sudah ada. Atau yang disebut dengan Diaspora Restauran,” ujarnya.

(prihandoko/sir)