Friday, 06 December 2019

15 Tahun Mengabdi, Guru Honorer Desak Jokowi Buka Hati

Selasa, 1 Mei 2018 — 11:56 WIB
Dali, guru honorer, berharap bisa diangkat menjadi PNS setelah 15 tahun mengabdi. (ikbal)

Dali, guru honorer, berharap bisa diangkat menjadi PNS setelah 15 tahun mengabdi. (ikbal)

JAKARTA – Dali, sarjana pendidikan asal Brebes, Jawa Tengah, ikut mengepalkan tangan di seberang Istana Merdeka Jalan Medan Medeka Utara, Jakarta Pusat, Selasa (1/5/2018). Ia juga berteriak lantang bersama buruh yang tergbung dalam Konfederasi Rakyat Pekerja Indonesia.

Lelaki  37 tahun itu datang ke Jakarta meminta kejelasan nasibnya, sama dengan ratusan tenaga honorer dari seluruh Indonesia.

Dali telah mengabdi sebagai pendidik sejak 2003. Namun 15 tahun berselang, nasibnya belum juga berubah. Impiannya menjadi pegawai negeri sipil (PNS) masih sebatas harapan.

“Kayaknya Pak Jokowi belum bisa membuka (hati) untuk Guru Honorer K2. Harapannya di 2018 guru honorer se Indonesia dapat diangkat. Bisa bertahap hingga 2019 nanti,” katanya.

Guru SDN Welahar 3, Larangan Brebes itu mengaku penghasilan sebagai tenaga honorer jauh dari kata cukup. Setiap bulan Dali hanya mengantongi Rp500 ribu dari dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS). Dia mengakui mendapat insentif setiap bulannya namun angkanya sangat kecil.

“Honor dari BOS Rp500 ribu setiap bulan.  Lalu ada dana kesra Rp300 yang bisa diambil 3 bulan sekali. Murid saya sudah ada yang jadi polisi, ada yang jadi bidan. Masak gurunya masih begini aja. Pokoknya PNS harga mati,” tandasnya.

Hal yang sama juga disampaikan Supartini, guru honorer SDN Pinang 6, Kota Tangerang. Pengajar yang sudah mengabdikan diri selama 14 tahun itu juga meminta dirinya dan rekan sejawat diangkat tanpa melalui tes.

“Kita minta guru honorer K2 jadi PNS. Kita punya tangung jawab dan kewajiban yang sama dengan PNS, tapi gajinya jauh banget,” ujar Supartini.

Dia mengatakan penghasilan guru honorer di bawah ketentuan UMR di masing-masing daerah.  Itu makanya mereka mau datang jauh-jauh ke Jakarta demi berjuang mengubah nasib. Mereka berharap Presiden Joko Widodo bisa mengubah kesejahteraan mereka. (ikbal/yp)